Trauma Healing Jadi Pilar Penting Pemulihan Pascabencana Sumatra

Baca Juga

Oleh: Bara Winatha*)

Bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra dan Aceh menjadi momentum penguatan kepedulian nasional terhadap perlindungan dan pemulihan anak-anak. Dalam setiap situasi darurat, anak-anak mendapatkan perhatian khusus sebagai generasi penerusbangsa yang harus terus tumbuh dengan semangat, rasa aman, dan optimisme. Upaya pemulihan kesehatan mental melalui program trauma healing hadir sebagai langkah strategisuntuk membantu anak-anak kembali beraktivitas, belajar, dan bersosialisasi secara positif. Pendekatan ini memastikan mereka tetap berkembang secara psikologis dengan dukunganyang tepat dan berkelanjutan. Komitmen tersebut semakin nyata melalui sinergi kuat antaralembaga negara, pemerintah daerah, dan organisasi kemanusiaan yang secara aktifmenghadirkan layanan psikososial berkualitas di wilayah terdampak bencana di Sumatra, sebagai wujud kehadiran negara dalam menjaga masa depan anak-anak Indonesia.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, mengatakan penanganan anak korban bencana harus menempatkan pemulihan trauma sebagai prioritas utama. Menurutnya, anak-anak mencapai sekitar 36 persen dari total pengungsi pascabencana, sehingga kebutuhan mereka tidak boleh dipinggirkan. Ia menilai bahwa luka fisik mungkin dapat terlihat dan ditangani dengan cepat, tetapi luka psikis memerlukan waktu yang lebih panjang dan pendekatan yang berkelanjutan. Jika trauma tidak tertangani secara memadai, dampaknya dapat menghambat perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak di masa depan.

Jasra Putra mengatakan KPAI mendorong penerapan tiga pilar utama dalam pemulihan trauma anak di wilayah terdampak bencana. Pilar pertama adalah trauma healing berbasis resiliensi ekologis atau eco-healing. Pendekatan ini memadukan kegiatan pemulihan psikologis dengan edukasi perubahan iklim dan kesadaran lingkungan. Anak-anak tidak hanya diajak bermain untuk mengalihkan trauma sesaat, tetapi juga dilibatkan dalam aktivitas yang membangun pemahaman bahwa mereka memiliki peran dalam menjaga lingkungan.

Melalui konsep circular recovery, anak-anak diajak memanfaatkan material sisa bencana seperti kayu, batu, dan pasir untuk dijadikan karya seni atau fasilitas sederhana bagi sekolah dan ruang bermain. Pendekatan ini bertujuan membangun narasi pemulihan yang menempatkan anak sebagai subjek aktif dan pahlawan lingkungan, bukan semata-mata sebagai korban. Dengan cara tersebut, anak diharapkan tidak tumbuh dengan rasa takut atau kebencian terhadap alam, melainkan dengan kesadaran bahwa menjaga ekologi merupakan bagian dari perlindungan masa depan mereka sendiri.

Pilar kedua adalah penciptaan rasa aman atau sense of security. Ketakutan anak terhadap hujan, sungai yang meluap, atau suara-suara tertentu sering kali tidak sebanding dengan tingkat kerusakan fisik bangunan yang ada. Oleh karena itu, mitigasi bencana perlu dihadirkan di sekolah, tenda darurat, maupun sekolah sementara agar anak merasa terlindungi. Edukasi kebencanaan yang sederhana dan berulang dapat membantu anak memahami situasi secara rasional dan mengurangi kecemasan berlebih.

Pilar ketiga adalah darurat perlindungan anak melalui pengaktifan kembali sistem rujukan terpadu. Pengungsian yang berkepanjangan meningkatkan risiko kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual. Karena itu, pemerintah daerah didorong untuk menghidupkan kembali peran UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, puskesmas, serta posyandu sebagai garda terdepan layanan rujukan. Penguatan keamanan berbasis komunitas juga diperlukan dengan melibatkan kepolisian, TNI, serta lembaga masyarakat yang berpengalaman dalam perlindungan anak.

Selain perlindungan sosial, aspek kesehatan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pemulihan pascabencana. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan para relawan kesehatan juga memberikan layanan pemulihan psikologis atau trauma healing bagi warga terdampak bencana, terutama anak-anak. Kementerian Kesehatan secara rutin mengirimkan tenaga profesional kesehatan jiwa, termasuk psikiater klinis, untuk membantu menghibur anak-anak dan mendampingi mereka melalui aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan. Hingga saat ini, sekitar 6.100 tenaga kesehatan telah dikirimkan ke wilayah terdampak, dengan sistem rotasi setiap dua minggu agar layanan tetap berjalan berkelanjutan.

Upaya trauma healing juga dilakukan oleh berbagai organisasi kemanusiaan dan lembaga sosial di tingkat akar rumput. Koordinator AQL Laznas Peduli Posko Aceh Tamiang, Novita Mariana, mengatakan kegiatan trauma healing anak menjadi bagian utama dalam pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang. Bersama organisasi masyarakat dan swasta, pihaknya memfokuskan kegiatan pada layanan psikososial anak dan pengobatan gratis bagi warga terdampak.

Novita Mariana mengatakan trauma healing dilakukan melalui aktivitas menggambar, bernyanyi, serta program Indonesia Menulis Quran. Aktivitas tersebut dirancang untuk membantu pemulihan mental anak sekaligus menumbuhkan semangat belajar agama menjelang Ramadhan. Kegiatan dipusatkan di masjid yang berada di kawasan terdampak banjir, dengan melibatkan sekitar 100 anak yang sebagian besar masih menjalani aktivitas sekolah di lokasi yang sama.

Sinergi antara negara dan masyarakat ini menunjukkan bahwa trauma healing telah menjadi kesadaran kolektif dalam pemulihan pascabencana di Sumatra. Pendekatan yang dilakukan tidak bersifat seragam, tetapi disesuaikan dengan konteks lokal, budaya, dan kebutuhan masyarakat setempat. Keterlibatan tokoh adat, tokoh agama, serta komunitas lokal memperkuat efektivitas program karena masyarakat merasa memiliki dan percaya terhadap proses pemulihan.

Dengan menempatkan trauma healing sebagai pilar penting, pemulihan pascabencana di Sumatra diharapkan tidak hanya menghasilkan bangunan yang berdiri kembali, tetapi juga generasi anak yang pulih secara mental dan siap melangkah ke masa depan. Anak-anak yang mendapatkan pendampingan psikososial yang memadai akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh tangguh, adaptif, dan optimistis.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Hasil Lab Keluar: Kualitas Air Sungai Serang Lampaui Batas Aman, DLH Kulon Progo Minta Warga Sadar Lingkungan

Mata Indonesia, Kulon Progo - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulon Progo mempublikasikan hasil kajian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) 2025 yang mencakup penilaian kualitas air sungai, kualitas udara, dan tutupan lahan. Dalam kajian tersebut, DLH meneliti sembilan sungai yang mengalir di wilayah Kulon Progo.
- Advertisement -

Baca berita yang ini