Tangan Kanan Osamah bin Laden: Narasi Indonesia Tindas Umat Islam Hanya Politisasi Agama

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Negara dan Pemerintah Indonesia tidak pernah menindas umat Islam. Hanya politisasi agama yang mendramatisirnya seolah penindasan tersebut terjadi.

Hal itu diungkapkan mantan tangan kanan Osamah bin Laden dan ahli strategi perang Mujahidin, Hisyam saat berbincang dengan Direktur Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi yang dilihat di Instagram @islah_bahrawi Selasa 29 Desember 2020.

Hisyam yang dikenal dengan nama Umar Patek itu lahir di Pemalang Juli 1966 kepalanya pernah dihargai 1 juta dolar AS oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) karena dianggap sebagai teroris papan atas karena aksinya di Afghanistan dan Filipina Selatan.

Umar yang kini merupakan salah satu penghuni Lapas Porong Sidoarjo merasa sangat beruntung diserahkan ke Pemerintah Indonesia bukan Amerika Serikat.

“Saya beruntung masih bisa menghirup udara Indonesia, bayangkan jika saya ditangkap pihak Amerika, saya akan mati di penjara,” kata kepada Islah.

Umar ditangkap Kepolisian Pakistan di perbatasan negeri itu saat dalam pelariannya ke Afghanistan.

Karena di warga negara Indonesia (WNI) Pemerintah Pakistan pun menyerahkan ke Pemerintah Indonesia.

Hisyam alias Umar merasa berterima kasih dengan perlakuan terhadap dirinya selama ditahanan sehingga dia merasa sudah saatnya menebus kesalahan masa lalunya.

Alasan Umar menyebut Pemerintah Indonesia tidak pernah menindas umat Islam adalah tindakannya kepada Pesantren Al-Mukmin-Ngruki di Sukoharjo.

Pemerintah hanya menangkap pucuk pimpinannya Abu Bakar Ba’asyir, sedangkan pesantrennya tidak ditutup. Menurut Umar, di Afghanistan dalam kasus seperti itu, pesantren tersebut pasti sudah dihabisi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pelayanan Haji 2026 Mendapat Banyak Apresiasi

*) Oleh : Deva BarunaPelaksanaan ibadah haji tahun 2026 mendapat banyak apresiasi dari para jemaahIndonesia maupun berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraannya. Berbagaipembenahan layanan yang dilakukan sejak awal keberangkatan hingga kepulangandinilai memberikan kenyamanan yang lebih baik. Tidak sedikit jemaah yang mengakumerasa lebih tenang karena sistem pelayanan yang semakin tertata dan responsif. Mulai dari proses pemberangkatan di embarkasi, pendampingan selama di Tanah Suci, hingga layanan kesehatan dan konsumsi, semuanya berjalan dengan lebih baikdibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Situasi ini menjadi gambaran bahwa upayapeningkatan kualitas pelayanan haji terus menunjukkan hasil positif.Salah satu aspek yang paling banyak mendapat perhatian adalah peningkatanpelayanan transportasi dan akomodasi. Jemaah merasakan kemudahan saatperpindahan dari satu lokasi ibadah ke lokasi lainnya karena koordinasi petugas dinilailebih sigap dan terorganisasi. Bus antarjemput yang tersedia lebih teratur sehinggamampu mengurangi kepadatan dan antrean panjang, terutama saat puncakpelaksanaan ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Selain itu, fasilitas penginapanjuga dianggap semakin nyaman dengan kebersihan yang lebih terjaga serta jarak hotel yang relatif dekat dengan pusat kegiatan ibadah. Kondisi ini membuat jemaah, khususnya lanjut usia, merasa lebih terbantu dalam menjalankan rangkaian ibadah haji...
- Advertisement -

Baca berita yang ini