Sumber Energi Ramah Lingkungan untuk Masyarakat Sumba

Baca Juga

MATA INDONESIA, MATARAM – Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat 95 kWp di Desa Mata Redi dan Desa Mata Woga, Kecamatan Katiku Kana, Kabupaten Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur.

Peresmian PLTS ini pada Jumat, 26 Agustus 2022. Pembangunan PLTS ini merupakan wujud komitmen Pemerintah dalam menyediakan energi bersih yang rendah karbon dan ramah lingkungan bagi masyarakat.

PLTS itu merupakan proyek percontohan pertama program Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia (MENTARI). Kerjasama Pemerintah Indonesia dan Inggris. Program berbiaya 240 miliar itu menerangi 243 rumah dan 13 fasilitas sosial.

“PLTS selain berfungsi sebagai sumber penerangan juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi rumah tangga yang inklusif. Dan pengentasan kemiskinan melalui pengembangan sektor energi baru terbarukan yang bergerak di berbagai bidang. Tujuannya, meningkatkan ekonomi produktif dan membuka lapangan kerja masyarakat sekitar,” kata Wakil Bupati Sumba Tengah Daniel Landa.

Daniel meminta, agar masyarakat Sumba Tengah, khususnya warga Desa Mata Redi dan Desa Mata Woga, menjaga fasilitas PLTS yang ada. Sehingga pemanfaatannya sebagai pendorong roda perekonomian dapat berlangsung lama.

Sebanyak 243 rumah tangga, 50 usaha mikro dan kecil, serta 12 fasilitas umum akan mendapatkan akses listrik yang bersih. Andal dan terjangkau. PLTS juga akan membantu meningkatkan ekonomi lokal. Dengan memberdayakan usaha lokal dan meningkatkan hasil pertanian.

Akses terhadap energi bersih juga akan membawa manfaat. Seperti, memungkinkan tempat usaha dan fasilitas kesehatan beroperasi lebih lama. Menyediakan wadah pendingin untuk obat-obatan. Dan bisa membuat anak-anak belajar lebih baik di malam hari.

“Kita semua patut bangga dan senang, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris bersama-sama memiliki komitmen kemitraan. Dan dukungan yang kuat dalam upaya pengembangan energi rendah karbon dan transisi energi. Salah satunya, melalui program Mentari. Ini merupakan wujud komitmen dalam merealisasikan nota kesepahaman dan implemented agreement,” kata Staf Ahli Lingkungan dan Perencanaan Tata Ruang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Muhammad Wafid AN.

Ia mengatakan bahwa manusia tidak bisa seterusnya bergantung kepada sumber energi fosil. Tapi, sambung dia, harus cepat beralih ke sumber energi baru. Rendah karbon, dan ramah lingkungan.

“Kita sangat bersyukur, Pulau Sumba diberkati kekayaan sinar surya terbaik sepanjang tahun. Sumba memiliki potensi 20.000 MW, sangat besar untuk kita wujudkan menjadi lumbung energi surya,” lanjut Wafid.

Bukan hanya memberi penerangan, listrik juga memberi kehidupan dan peradaban. Pemerintah pusat dan daerah akan terus hadir di tengah masyarakat untuk menyediakan energi, meningkatkan rasio elektrifikasi, dan membangun sumber pembangkit mandiri.

Kerja sama antarpemerintah itu bertujuan untuk mewujudkan manfaat dan memenuhi Kesepakatan Paris agar kenaikan suhu bisa terjaga, tidak lebih dari 1.5 derajat Celcius. Pemerintah Inggris pun merasa bangga dengan program Mentari yang dapat membantu tercapainya hal yang diinginkan kedua pihak.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini