Sinergi Pemerintah dan Tokoh Adat Kawal PSN demi Pembangunan Papua Berkelanjutan

Baca Juga

Mata Indonesia, Nabire – Tokoh adat Papua menegaskan bahwa PSN merupakan instrumen percepatan pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan kebijakan yang merugikan atau memaksakan kehendak tertentu kepada daerah.

Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Papua Tengah, Melkisedek Rumawai, mengajak masyarakat serta pemerintah daerah untuk bersinergi mendukung PSN agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat Papua.

Ia menilai PSN memiliki peran penting dalam membuka lapangan kerja, mempercepat pemerataan pembangunan, serta memperluas akses kesejahteraan di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur dan layanan dasar.

Menurut Melkisedek, PSN harus dipahami sebagai kompas pembangunan jangka panjang, bukan sekadar daftar proyek. Program ini mencakup pembangunan konektivitas, pemerataan energi, penguatan ketahanan pangan, hingga transformasi digital dan pengembangan sumber daya manusia.

Namun, keberhasilan PSN sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dan komitmen pemerintah daerah dalam mengawal pelaksanaannya secara bertanggung jawab.

“PSN mencakup segala hal mulai dari infrastruktur konektivitas, pemerataan energi, kedaulatan pangan hingga transformasi digital dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Namun visi besar ini lanjut kata Melkisedek Rumawi, hanya akan terwujud jika masyarakat Papua bergerak dari tahapan perencanaan menuju tahapan implementasi yang tuntas dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar pembangunan dapat berjalan kondusif, sekaligus memastikan program pemerintah pusat dan daerah terlaksana tepat sasaran.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk turut meluruskan isu yang beredar terkait tudingan adanya arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menanam kelapa sawit di Papua. Ribka menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar dan tidak sesuai dengan konteks pertemuan antara Presiden dan para kepala daerah Papua.

“Ada opini yang sementara berkembang bahwa ada arahan Bapak Presiden untuk menanam sawit di Papua. Itu tidak benar,” kata Ribka.

Ia menjelaskan bahwa arahan Presiden berfokus pada percepatan pembangunan dan penguatan ketahanan pangan dengan menyesuaikan potensi masing-masing daerah. Papua memiliki beragam komoditas pangan lokal yang dapat dikembangkan sesuai karakter wilayah, tidak terbatas pada satu jenis komoditas tertentu.

Ribka menegaskan, percepatan pembangunan melalui PSN merupakan bagian dari agenda nasional untuk mengurangi kesenjangan, memperkuat ekonomi lokal, serta memastikan masyarakat Papua memperoleh akses yang adil terhadap pangan, pendidikan, dan kesejahteraan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG dan Komitmen Pemerintah dalam Transparansi Anggaran Jaminan Gizi Berkualitas

Oleh: Dhita Karuniawati )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus diperkuat dari sisitata kelola anggaran agar pelaksanaannya berjalan transparan, akuntabel, dan tepatsasaran. Pemerintah menegaskan bahwa setiap komponen pembiayaan dalamprogram ini telah diatur secara ketat dan harus mengikuti standar yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa manfaat program benar-benar dirasakanoleh masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerima utama program. Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalampelaksanaan MBG menegaskan bahwa anggaran untuk bahan makanan dalamprogram tersebut telah ditentukan secara jelas. Besaran anggaran tersebut beradapada kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi makanan, bukan Rp15.000 sepertiyang sempat beredar di masyarakat. Kebijakan ini ditetapkan agar penyedia makanandapat memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang bagi para penerima manfaat tanpamengabaikan prinsip efisiensi anggaran negara. Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN, Nanik S. Deyang, mengatakan bahwa angka Rp13.000–Rp15.000 yang muncul di beberapa sumber tidakmurni untuk bahan makanan, melainkan sudah termasuk biaya operasional, insentifmitra pelaksana, serta kebutuhan pendukung lain. BGN menegaskan bahwa semua penerima manfaat tetap akan memperoleh makananyang bergizi dan aman dikonsumsi. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mengawasi kualitas bahan makanan, memastikan menu sesuai standar gizi yang ditetapkan. Nanik mengatakan Program MBG tetap memperhatikan kelompok prioritas seperti ibuhamil, ibu menyusui, dan balita usia 6–59 bulan. Kualitas makanan menjadi prioritasutama agar tujuan gizi masyarakat tercapai secara optimal. Masyarakat juga diberikan ruang untuk melaporkan dugaan penyimpangan dalam menu MBG. BGN memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku, demi menjaga transparansi dan akuntabilitas program. Dengan penegasan ini, BGN berharap publik memahami bahwa anggaran untuk bahanmakanan MBG tetap sesuai aturan Rp8.000–Rp10.000, dan setiap penerima manfaattetap memperoleh makanan bergizi tanpa mengurangi kualitas. Selain pengaturan standar anggaran, pemerintah juga memperkuat aspek transparansimelalui pengembangan sistem pelaporan keuangan yang terintegrasi. Upaya inidilakukan untuk memastikan bahwa seluruh proses pengelolaan dana dalam program MBG dapat dipantau dan diaudit dengan lebih mudah. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Keuangan(Kemenkeu) meluncurkan E-Learning Penyusunan Laporan Keuangan pada SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Aplikasi Pelaporan Keuangan SPPG. Hal itusesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negaradan peraturan menteri keuangan nomor 168/ PMK.05/ 2015 sttd. PMK 173/PMK.05/2016 dan PMK...
- Advertisement -

Baca berita yang ini