Serangan Milisi Taliban pada Kuartal Terakhir 2020 Lebih Tinggi

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Jumlah serangan di Afghanistan yang dilakukan oleh Taliban pada kuartal terakhir tahun 2020 lebih tinggi daripada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Perjanjian Februari 2020 antara Taliban dan Amerika Serikat yang masih dipimpin oleh mantan Presiden Donald Trump menghasilkan kesepakatan berupa penarikan penuh pasukan AS pada Mei 2021. Sebagai imbalannya, milisi Taliban akan memenuhi jaminan keamanan di negeri Afghanistan.

Sementara Presiden Joe Biden yang menjabat sebagai orang nomor satu di AS pada 21 Januari mengatakan akan mengkaji segala hal yang telah dilakukan oleh pendahulunya. Sementara para pejabat AS mengungkapkan, Taliban belum memenuhi komitmen mereka, sehingga batas waktu pasukan AS di Afghanistan mungkin akan diperpanjang.

Inspektur Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan atau SIGAR, mengungkapkan dalam sebuah laporan bahwa militer AS telah melaporkan serangan yang diprakarsai Taliban periode Oktober dan Desember 2020 lebih tinggi daripada yang terjadi pada periode yang sama tahun 2019. Khususnya serangan di ibu kota Kabul.

“Pasukan AS-Afghanistan mengatakan serangan musuh kuartal ini di Kabul lebih tinggi daripada kuartal terakhir dan jauh lebih tinggi daripada di kuartal yang sama tahun sebelumnya,” berdasarkan laporan tersebut, melansir Reuters, Selasa, 2 Februari 2021.

Meskipun terjadi kekerasan, korban pada kuartal ini turun 14% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan turun 5% tahun 2020 dibandingkan dengan 2019.

Milisi Taliban dan pemerintah Afghanistan telah bernegosiasi di Doha, Qatar untuk mencapai kesepakatan damai. Dialog tersebut dilanjutkan pada Januari setelah jeda hampir sebulan, tetapi negosiator dan diplomat mengatakan sejak itu hanya ada sedikit kemajuan.

Sementara pasukan internasional berencana untuk tetap bertahan di Afghanistan melampaui batas waktu Mei, sebuah langkah yang diyakini dapat meningkatkan ketegangan dengan Taliban yang menuntut penarikan penuh.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini