Putra Asli Papua Ditunjuk Jadi Direktur Freeport, Begini Alasan Erick Thohir

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Claus Wamafma, putra asli Papua telah ditunjuk oleh Menteri BUMN Erick Thohir sebagai Direktur PT Freeport Indonesia. Banyak yang bertanya-tanya, kenapa harus Claus yang ditunjuk, bukan sosok lain?

Erick Thohir menjelaskan alasannya menunjuk Claus. Ia telah mempelajari semua kerja Claus selama 21 tahun mengabdi di Freeport.

“Ini bukan alasan politik, tapi karena Claus sudah melalui banyak hal di Freeport dan dia berhak untuk itu. Bukan karena dia Papua,” kata Erick di Jakarta, Sabtu 22 Februari 2020.

Menurut Erick, pengalaman kerja 21 tahun di Freeport telah menjadikan Claus sebagai sosok tepat yang memiliki kemampuan tepat untuk mengemban amanah sebagai direktur.

Selain itu, Erick menegaskan bahwa siapa saja berhak untuk menduduki jabatan tersebut asalkan memiliki pengalaman, kemampuan, serta pengetahuan yang cukup dalam membidangi posisi di perusahaan tambang emas itu.

Adapun Claus sebagai putra asli Papua, Erick mengaku senang mengetahui hal itu. Apalagi, Presiden Joko Widodo diketahui sangat menyayangi masyarakat Papua.

“Presiden Joko Widodo sayang sama Papua, saya Menteri BUMN juga sayang dengan Papua, maka setiap masyarakatnya juga berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” ujar Erick.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini