Presiden Biden Dihadapi Masalah Serius Terkait Imigrasi

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden akan mengeluarkan serangkaian regulasi imigrasi baru dalam beberapa hari ke depan. Biden diyakini akan membalikkan kebijakan yang diperjuangkan pendahulunya, Donald Trump, termasuk soal suaka di perbatasan AS-Meksiko dan reunifikasi keluarga migran.

Biden dinobatkan sebagai Presiden di Negeri Paman Sam usai memenangkan dukungan dari komunitas progresif dan imigran melalui sebuah janji, antara lain, untuk menghilangkan sikap garis keras mantan Presiden Donald Trump terhadap imigrasi.

Pakar imigrasi di lembaga pemikir Liberal Center for American Progress, Tom Jawetz mengatakan bahwa Biden menghadapi masalah yang serius, terutama untuk membalikkan warisan pemerintahan mantan Presiden Trump, yang selama empat tahun terakhir memberlakukan sistem penghalang yang komprehensif dan saling berhubungan.

Jawetz mengungkapkan bahwa membatalkan regulasi yang telah dibuat mantan Presiden Trump, beberapa dianggap melanggar hukum oleh pengadilan AS dan berpotensi memakan waktu selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sekalipun Biden mengambil tindakan eksekutif.

“Ada begitu banyak hal yang mereka lakukan secara komprehensif untuk mencegah orang mengakses perlindungan yang diberikan kepada mereka berdasarkan hukum AS dan internasional –sehingga Anda tidak dapat memilih satu kebijakan pun,” kata Jawetz.

“Sifatnya yang tumpang tindih, berarti salah satu dari mereka dapat memiliki efek signifikan dengan sendirinya. Semua perlu ditangani,” sambungnya, melansir Al Jazeera.

Sejak dilantik menjadi Presiden AS pada 21 Januari 2021, Biden langsung tancap gas dengan menandatangani tindakan eksekutif yang menghentikan pembangunan tembok di sepanjang perbatasan AS-Meksiko, mencabut larangan perjalanan bagi Muslim, mempertahankan DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals) –sebuah program yang memberikan status kepada anak-anak migran yang tidak memiliki dokumen sah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini