Polda NTT Undang Nasir Abbas Gelar Diskusi Kontra Radikalisme

Baca Juga

MATA INDONESIA, KUPANG – Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT) menggelar Fokus Group Discussion Giat Kewilayaan Kontra Radikal Wilayah Hukum Polda NTT di Hotel Swiss Belcourt Kota Kupang pada Selasa, 15 Maret 2022. Dalam acara ini, Polda NTT mengundang Muhammad Nasir Abbas yang merupakan mantan teroris Jamaah Islamiyah (JI) untuk memberikan edukasi bagi kalangan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Kupang.

Nasir Abbas mengatakan bahwa kalau ada yang mau mengubah 4 pilar penyatu Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, NKRI itu merupakan praktik radikalisme.

“Indonesia bukan negara agama seperti Malaysia ataupun Iran. Proses menjadi teroris dimulai dari salah paham, intoleran, radikalisme (paham/aliran) dan terorisme (perilaku),” ujarnya.

Ia pun mengimbau agar para mahasiswa perlu mewaspadai pergerakan kelompok radikalisme. Sebagai mantan pentolan JI, ia mengungkapkan bahwa cara organisasi itu merekrut pengikut adalah lewat lembaga pendidikan.

“Makanya JI memiliki banyak sekolah maupun pesantren,” katanya.

Ia juga mengagumi budaya toleransi yang terjaga di NTT. Namun, masyarakat NTT harus mewaspadai segala bentuk praktik terorisme di Bumi Flobamorata.

“Memang benar NTT adalah Nusa Terindah Toleransi tapi perekrutan menjadi teroris bisa saja terjadi. Bisa lewat handphone yang disebarkan lewat medsos. Untuk itu kita perlu menjaga toleransi dan sikap saling menghargai di NTT,” ujarnya.

Ia pun memberikan beberapa tips kepada para mahasiswa agar tak mudah terpapar radikalisme yaitu perlu ada respon dalam diri. Artinya selalu bertanya pada diri, bagaimana jika hal itu terjadi pada diri atau keluarga sendiri?

“Apakah sudah benar sesuai ajaran agama dan kemanusiaan? Apakah sudah sesuai konsep Bhineka tunggal Ika dan Pancasila?,” lanjutnya.

Selain itu, para mahasiswa juga harus bersikap kritis atas semua yang dibaca, dilihat, ditonton dan didengar. Serta membudayakan Tabayyun (klarifikasi) kepada orang alim (banyak pengetahuan).

“Generasi muda juga diminta untuk membuat dan menyebarkan konten yang damai dan menyejukkan sebagai bentuk kontra terhadap konten-konten radikalisme dan intoleransi,” katanya.

Sementara AKBP Erlan Munaji, S.I.K, M.Si mengatakan bahwa tujuan kegiatan diskusi ini diselenggarakan agar para mahasiswa tidak mudah terpapar radikalisme.

Menurutnya, media sosial merupakan sarana yang paling rentan dan paling mudah untuk menyebarkan radikalisme.

“Semua kembali kepada pikiran dan hati kita untuk tidak cepat terpengaruh dengan paham-paham demikian,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemerintah Bangun IKN Dengan Tetap Memberdayakan Masyarakat Lokal

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur bukan hanya tentang memindahkan pusat pemerintahan, tapi juga tentang membangun masa...
- Advertisement -

Baca berita yang ini