Embargo Impor Minyak dan Gas Rusia Picu Harga BBM di AS Meroket

Baca Juga

MATA INDONESIA, WASHINGTON – Presiden Joe Biden mengumumkan bahwa Amerika Serikat (AS) melarang impor minyak dari Rusia, bersama dengan produk minyak sulingan, gas alam, dan baru bara.

Larangan tersebut diumumkan pada 8 Maret 2022. Ini adalah langkah terbaru AS yang dirancang untuk menghukum Rusoa atas invasinya ke Ukraina yang dimulai pada Kamis, 24 Februari 2022.

Seberapa pentingkah Rusia sebagai pemasok minyak AS?

Rusia memproduksi hampir 11 juta barel per hari minyak mentah. Ini menggunakan kira-kira setengah dari output ini untuk permintaan internalnya, yang mungkin telah meningkat karena kebutuhan bahan bakar militer yang lebih tinggi, dan mengekspor 5 juta hingga 6 juta barel per hari.

Saat ini, Rusia adalah produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia, setelah Arab Saudi dan AS. Rusia memperoleh lebih dari 110 miliar USD tahun 2021 dari ekspor minyak, dua kali lipat pendapatannya dari ekspor gas alam.

Melansir The Conversation, minyak mentah Rusia sebenarnya bukan bahan pokok untuk penyulingan AS. Pembelian turun menjadi 84.000 barel per hari ketika Administrasi Biden secara resmi mengumumkan larangan impor. Ini akan menjadi ketidaknyamanan kecil bagi penyuling AS untuk menghindari minyak Rusia.

Dan kebalikannya juga benar: pembelian AS hampir tidak mencatat pendapatan minyak besar-besaran Rusia. Agar efektif, larangan negara individu harus dikumpulkan di banyak negara untuk menghasilkan konsekuensi yang benar-benar mempengaruhi dompet Rusia.

Meski demikian, kebijakan sanksi embargo impor minyak mentah dan gas alam dari Rusia, ternyata berimbas pada sektor perekonomian AS. Akibatnya, harga bensin di Negeri Paman Sam meroket.

Pantauan Fortune, harga rata-rata bensin kelas reguler di pasaran AS saat ini mencapai 4,43 USD per gallon atau sekitar 63,427 Rupiah dalam dua pekan terakhir.

Sementara itu di San Fransisco Bay Area, harga gas alam kini dibanderol senilai 5,79 USD per gallon atau sekitar 82,895 Rupiah.

Kenaikan harga bahan bakar minyak ini memecahkan rekor tertinggi harga bensin di AS, sejak Juli 2008. Ketiga itu, harga segalon bensin hanya dijual sekitar 4,11 USD atau setara dengan 58,842 Rupiah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini