Peringkat FIFA Indonesia Naik, Lewati Singapura

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Peringkat FIFA Indonesia mengalami perubahan cukup signifikan berdasarkan rilis per Kamis 10 Februari 2022. Indonesia naik empat posisi ke peringkat 160 melewati Singapura.

Pada peringkat FIFA yang dirilis pada 23 Desember 2021, Indonesia berada di posisi 164. Kala itu tim Merah Putih juga mengalami peningkatan dari posisi sebelumnya 166 ppada 19 November 2021.

Naiknya peringkat Indonesia tak lepas dari hasil dua kemenangan yang diraih lawan Timor Leste di laga internasional atau FIFA Matchday.

Indonesia menyalip posisi Singapura yang ada di peringkat 161. Hanya saja, posisi Indonesia masih di bawah beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Vietnam (98), Thailand (112), Filipina (129), Myanmar (152), dan Malaysia (153).

Secara keselurunan, Belgia masih duduk di puncak peringkat FIFA diikuti Brasil, Prancis, Argentina, dan Inggris yang melengkapi posisi lima besar.

Posisi enam hingga 10 ditempati Italia, Spanyok, Portugal, Denmark, dan Belanda. Untuk negara Asia, posisi tertinggi ditempati Iran (21) yang mengungguli Jepang (23) dan Korea Selatan (29).

Ranking FIFA Terbaru 10 Februari 2022

  1. Belgia
  2. Brasil
  3. Prancis
  4. Argentina
  5. Inggris
  6. Italia
  7. Spanyol
  8. Portugal
  9. Denmark
  10. Belanda

  1. Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Hilirisasi untuk Ekonomi yang Lebih Sejahtera

Oleh: Yusuf Rinaldi)* Transformasi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakinmenunjukkan arah yang jelas, yaitu dengan memperkuat nilai tambah sumber dayaalam melalui strategi hilirisasi. Kebijakan ini bukan sekadar agenda industrialisasibiasa, melainkan fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.  Dalam konteks ekonomi global yang semakin kompetitif, langkah pemerintahmempercepat hilirisasi menjadi salah satu strategi paling rasional untuk memastikankekayaan alam Indonesia benar-benar memberi manfaat optimal bagi masyarakat. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya untuk memperkuat peranPerusahaan Mineral Nasional (Perminas) sebagai instrumen negara dalammengelola sumber daya mineral secara lebih terintegrasi. Langkah ini sangat penting mengingat selama bertahun-tahun Indonesia lebihbanyak mengekspor bahan mentah tanpa nilai tambah yang signifikan. Denganpenguatan Perminas, pemerintah ingin memastikan bahwa pengelolaan mineral tidak lagi berhenti pada aktivitas eksplorasi dan penambangan, tetapi dilanjutkanhingga tahap pengolahan industri bernilai tinggi di dalam negeri. Presiden menekankan bahwa penguatan Perminas akan menjadi kunci bagiterciptanya pengelolaan sumber daya mineral yang lebih terpadu. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu berkembangmenjadi pusat produksi dan inovasi industri mineral di tingkat global. Langkah inisemakin relevan jika melihat tren investasi nasional. Data terbaru menunjukkanbahwa sektor hilirisasi menyumbang sekitar Rp584,1 triliun atau 30,2 persen daritotal realisasi investasi nasional pada 2025. Angka tersebut mencerminkan bahwatransformasi ekonomi berbasis nilai tambah mulai memberikan dampak nyata bagipertumbuhan ekonomi. Selain penguatan kelembagaan, pemerintah juga mendorong pembangunaninfrastruktur industri melalui pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK). Pemerintah saat ini tengah menunggu persetujuan Presiden atas pembentukanenam KEK baru yang akan difokuskan pada industri berbasis energi dan manufakturberteknologi tinggi. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, menjelaskan bahwa seluruh kajian teknis telah rampung dan kinimenunggu keputusan presiden. Ia mengatakan pihaknya sedang mengusulkan adaenam KEK baru yang akan diresmikan atau disetujui oleh Presiden. Keenamkawasan tersebut akan tersebar di berbagai wilayah strategis, termasuk Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Fokus industrinya meliputi pengembangankendaraan listrik, smelter pengolahan mineral strategis seperti nikel, hinggapengembangan energi hijau. Strategi ini tidak hanya memperkuat hilirisasi, tetapijuga menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah. Secara kinerja,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini