MINEWS.ID, JAKARTA – Namanya disebut Presiden Jokowi saat bertemu langsung, pesinetron Chacha Frederica menyebut mantan Gubernur DKI Jakarta itu sosok humanis.
Saat itu dia merasakan seperti mendapat sesuatu yang istimewa dan di luar perkiraannya.
“Itu loh hal yg saya tdk merasakan sebelumnya … beliau memang presiden tapi kok yaa humanis sekali .. kaya gap antara saya, masyarakat biasa dgn beliau tuh tipis sekali .. tapi klo sdh liat beliau di panggung atau di tv lagi .. oiya memang beliau org no 1 … ,” kata Chacha melalui akun instagramnya yang dikutip 16 Juli 2019.
Peristiwa yang membuatnya meleleh seperti itu adalah saat pada sebuah acara yang dihadiri Presiden Jokowi para pengunjung antre ingin bersalaman, termasuk Chacha.
Saat Jokowi berada di hadapannya, Chacha berusaha untuk memperkenalkan diri. Namun baru saja perempuan berhijab itu mengucapkan “Bapak…,” Jokowi langsung menjawabnya, “Chacha… .”
Itulah hal yang membuatnya meleleh dan menyebut Jokowi sebagai orang yang humble. Chacha merasa sebagai ‘bukan siapa-siapa’ tetapi diperlakukan sama dengan banyak orang VVIP seperti menteri, ketua-ketua partai dan profesional yang hadir pada acara tersebut.
Padahal Jokowi sebagai orang nomor 1 di Indonesia banyak yang dikenalnya, tetapi masih bisa mengenal dirinya.
Oleh: Petrus Pekei*
Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar.
Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok.
Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama.
Sikap serupa juga disuarakan oleh...