Masih Sakit, Ibu Ani Yudhoyono Tak Ingin Ditemani Anak dan Cucunya Saat Ini

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Setelah hampir tiga bulan dirawat di National University Hospital (NUH) Singapura, mantan ibu negara Ani Yudhoyono tidak mau ditemani anak-anaknya hingga minggu depan. Padahal, sehari-hari dia harus hidup dengan peralatan medis.

“Dengan restu Memo dan karena keinginan Memo kita semua pulang dan berjuang dulu (MasyaAllah masih sakit masih memikirkan masa depan bangsa), nanti setelah tanggal 17 April kami kembali memeluk Memo ya,” begitu pernyataan Annisa Pohan melalui akun instagramnya Kamis 11 April 2019.

Istri Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan tinggal mertua lelakinya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akan tinggal menemani mantan ibu negara itu.

Dalam sebuah wawancara televisi, Annisa mengungkapkan kondisi ibu mertua tersayangnya itu banyak diam.

Menurutnya, jika sang ibu mertua lebih banyak diam tandanya ada masalah kesehatan yang dirasakannya.

Seperti unggahan foto di akun instagram Annisa dan SBY fans, saat ini mantan Ibu Negara itu masih mengandalkan mesin-mesin medis. Tampak selang dan kabel yang menghubungkan mesin itu ke tubuhnya.

Saat ini, Ibu Ani Yudhoyono sedang dalam proses operasi sumsum tulang belakang. Banyak tes dan tindakan medis yang harus dia jalani sebelum sumsum tulang belakangnya ditransplantasi.

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini