Lelah dan Stres, Rowan Atkinson Memutuskan Berhenti Menjadi Mr Bean

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Mungkin hampir semua orang di dunia kenal dengan karakter kocak Mr Bean. Baru-baru ini, sang pemeran utama, Rowan Atkinson menegaskan dia tidak akan lagi tampil sebagai Mr Bean pada film.

Dirinya mengungkapkan bahwa karena berperan sebagai Mr Bean terasa “melelahkan”.  Meski demikian, dia masih akan mengisi suara pada Mr Bean versi animasi, proyek yang akan datang.

“Lebih mudah menampilkan karakter ini lewat vokal dibandingkan visual. Saya tidak terlalu menikmati tampil sebagai dia. Beban tanggung jawabnya tidak menyenangkan,” kata aktor 65 tahun itu seperti dikutip dari News.com.au, Selasa 5 Januari 2021.

“Rasanya stres dan melelahkan, dan saya ingin mengakhirinya.”

Diketahui, Mr Bean pertama kali muncul di ITV pada tahun 1990 sebelum akhirnya jadi film dan serial kartun. Page Facebook Mr Bean berada di posisi ke-10 yang paling populer di dunia.

Mr Bean adalah salah satu karakter populer yang disukai di berbagai negara, bahkan dia pun tampil dalam pembukaan Olimpiade di London 2012.

Dia mengatakan, karakter yang disukainya justru “Blackadder”, sitkom yang tayang pada 1983 hingga 1989.

“Sebab tanggung jawab untuk membuat serial itu lucu ada pada banyak orang, bukan cuma saya,” ujarnya.

Rowan Atkinson juga dikenal sebagai karakter mata-mata kocak asal Inggris bernama Johnny English.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Menutup Kesenjangan Layanan Kesehatan melalui Koperasi Desa

Oleh: Yandi Arya Adinegara )*Kesenjangan layanan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan masihmenjadi pekerjaan rumah besar dalam pembangunan nasional. Di satu sisi, kota-kota besar menikmati akses rumah sakit modern, tenaga medis memadai, sertadistribusi obat yang relatif lancar. Di sisi lain, banyak desa masih menghadapiketerbatasan fasilitas kesehatan, minimnya ketersediaan obat, hingga rendahnyaketerjangkauan layanan bagi masyarakat.Dalam konteks inilah, langkah pemerintah menghadirkan Koperasi Desa/Kelurahan(Kopdes) Merah Putih sebagai simpul layanan kesehatan sekaligus pusat ekonomidesa patut diapresiasi sebagai terobosan strategis dan relevan dengan kebutuhanzaman.Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih tidakhanya dirancang sebagai penggerak ekonomi lokal, tetapi juga menjadi ujungtombak pelayanan kesehatan masyarakat desa. Setiap koperasi akan dilengkapidengan gerai obat dan klinik kesehatan, sebuah inovasi yang secara langsungmenyasar persoalan klasik: keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pedesaan. Pernyataan ini bukan sekadar wacana, melainkan bagian dari desainkebijakan yang terintegrasi lintas sektor.Selama ini, salah satu persoalan mendasar adalah masih adanya warga desa yang belum terjangkau oleh program jaminan kesehatan nasional. Kehadiran klinik desaberbasis koperasi membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanankesehatan yang lebih dekat, murah, dan mudah diakses. Ferry Juliantonomenekankan bahwa pemerintah ingin memastikan masyarakat desa memperolehjaminan pelayanan kesehatan yang layak, melalui sinergi antara Kementerian Koperasi, Kementerian Kesehatan, dan BPJS Kesehatan.Langkah kolaboratif ini diperkuat dengan penandatanganan nota kesepahamanantara Sekretaris Kementerian Koperasi Ahmad Zabadi dan Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito. Kerja sama tersebut tidak hanya bertujuanmemperluas cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional...
- Advertisement -

Baca berita yang ini