Latihan di Inggris, Pemain Garuda Select Tetap Belajar Hadapi Ujian Nasional

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOUGHBOROUGH – Meski mengikuti program latihan di Inggris, pemain-pemain Garuda Select yang duduk di kelas 3 SMA tetap belajar menghadapi Ujian Nasional.

Pemain-pemain seperti Fernando Pamungkas, Rafly Asrul, Edgard Amping, hingga Daniel Naa, akan melewati salah satu fase penting dalam hidup mereka yakni Ujian Nasional level menengah atas.

Ujian tahun ini tentu berbeda bagi mereka. Tantangan jelas harus dihadapi mengingat saat ini mereka berada jauh dari rumah. Penyesuaian pun dilakukan agar tetap bisa belajar dengan fokus. Dengan semua persiapan, mereka berharap bisa melewati ujian dengan baik tahun ini.

“Bagi saya, tantangannya sangat berat karena sudah beberapa bulan saya tidak masuk sekolah walaupun disini masih tetap belajar secara rutin dengan bimbingan guru. Tantangannya saya harus bisa menyerap dengan baik semua pelajaran yang diberikan oleh guru kami. Saya tidak ada masalah dengan pembagian waktu antara latihan dan belajar,” kata Fernando Pamungkas.

“Di sini, kami semua belajar setiap selesai latihan sore. Menurut saya, tidak terlalu ada yang menyulitkan karena belajar itu biasanya memang di luar waktu latihan. Bagaimanapun, kami tetap butuh belajar dan sekolah agar tidak ketinggalan pelajaran,” timpal Rafli.

Bagi Edgard, Rafli, dan Fernando, pengalaman membagi waktu antara belajar dan latihan sudah mereka rasakan sejak tahun lalu. Namun, bagi Daniel Naa, ini adalah pengalaman baru dalam hidupnya.

“Kesulitannya di sini hanya terasa pada perbedaan jam dan waktu. Di sini malam dan di Indonesia masih siang. Perasaannya aneh saja karena harus ujian malam-malam di sini. Selain itu, tidak ada tantangan yang terlalu berat,” kata Daniel.

Selain harus menjalani program latihan intensif sebagai bekal menjadi pemain sepakbola, pendidikan tetap menjadi prioritas para pemain. Meski demikian, para pemain tetap menjalaninya dengan keseriusan dan perhatian yang penuh selama berada di Inggris.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG 3T: Pemerataan Program Gizi Nasional

Oleh : Andika PratamaPendekatan pemerataan pembangunan tidak dapat hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk ke wilayah perkotaan atau dari pesatnya pembangunan infrastruktur di pusat-pusatekonomi. Tolok ukur keberhasilan pembangunan nasional juga terletak pada kemampuan negara menghadirkan layanan dasar secara adil hingga menjangkau masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dalam konteks tersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategis yang menunjukkan komitmen pemerintah untukmemastikan tidak ada warga negara yang tertinggal dalam memperoleh hak atas pemenuhan giziyang layak. Kehadiran skema khusus MBG bagi wilayah 3T merupakan bukti bahwa pemerintahmemahami tantangan geografis Indonesia sekaligus berupaya menghadirkan solusi yang adaptifterhadap kondisi di lapangan.Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional bersama Badan Komunikasi Pemerintah menunjukkankeseriusan dalam merancang mekanisme khusus pelaksanaan MBG di daerah 3T. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menjelaskan bahwa karakteristik wilayah 3T berbeda dengan kawasan perkotaan sehingga membutuhkan skema pelayanan tersendiri. Kondisigeografis yang sulit dijangkau, jumlah penduduk yang relatif sedikit, hingga keterbatasaninfrastruktur menjadi faktor yang menyebabkan model pelayanan konvensional melalui SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi belum sepenuhnya dapat diterapkan secara optimal. Pernyataantersebut mencerminkan bahwa pemerintah tidak sekadar memaksakan satu pola kebijakannasional, melainkan memilih pendekatan yang lebih fleksibel agar manfaat program benar-benardapat dirasakan masyarakat sesuai kebutuhan masing-masing daerah.Langkah pemerintah untuk mengevaluasi berbagai alternatif mekanisme distribusi juga menunjukkan adanya kebijakan yang berbasis pada realitas lapangan. Pemanfaatan kantinsekolah sebagai salah satu opsi pelayanan merupakan bentuk inovasi yang patut diapresiasi. Namun pemerintah juga memahami bahwa tidak seluruh sekolah di wilayah 3T memiliki fasilitastersebut. Karena itu, berbagai alternatif lain masih terus dikaji agar pelaksanaan MBG tetapberjalan efektif tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Program MBG sesungguhnya memiliki dimensi pembangunan yang jauh lebih luas dibandingsekadar penyediaan makanan bergizi. Program ini menjadi investasi jangka panjang dalammenciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di tingkatglobal. Perbaikan status gizi sejak usia dini akan berkontribusi terhadap penurunan angkastunting, peningkatan kemampuan belajar anak, serta penguatan kualitas pendidikan nasional. Dalam jangka panjang, kualitas sumber daya manusia yang lebih baik akan meningkatkan dayasaing bangsa, termasuk dalam berbagai indikator pendidikan internasional seperti Programme for International Student...
- Advertisement -

Baca berita yang ini