Kata-Kata Anies Baswedan, Tak Mampu Cegah Kerumunan Pecinta Persija

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ajakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tidak digubris pecinta Persija atau Jakmania sehingga kerumunan mereka di luar rumah tanpa masker terutama di Bundaran Hotel Indonesia tak terhindarkan, Minggu 25 April 2021 malam.

Ajakan tersebut padahal sudah diungkapkannya melalui akun media sosial @aniesbaswedan dalam bentuk video seperti dilihat, Senin 26 April 2021.

“Saya mengajak kita semua mari merayakannya di rumah saja, jangan berbondong di luar rumah, jangan berkerumunan karena berrisiko penularan di masa Pandemi Covid19,” ujar Anies dengan santunnya.

Namun apa daya, meskipun di akun instagramnya, video itu ditonton lebih dari 600 kali dan di akun twitternya di tweet lebih dari seribu kali, pernyataan kepada warga Jakarta tidak berkumpul di luar rumah bagai angin lalu.

Ratusan pecinta Persija tetap berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia yang membuat aparat keamanan terkejut dan kewalahan.

Parahnya lagi, aparat Pemprov DKI Jakarta juga tidak bisa mencegah kegiatan tersebut dan Kepala Suku Dinas Kesehatan DKI Jakarta Erizon Safari mengaku tidak bisa memeriksa mereka.

Alasannya, tidak diketahui apakah mereka warga Jakarta atau bukan. Erizon bahkan seperti tidak mempunyai cara untuk melacak adakah peserta kerumunan pecinta Persija itu yang terinfeksi Covid19.

Sementara polisi berhasil menangkap lebih dari 60 orang dari peristiwa kerumunan pecinta Persija tersebut.

Mereka ada yang membawa narkoba dan lebih parah lagi sebagian besar lupa diri, tidak mengenakan masker. Saat ini, Dinas Kesehatan DKI Jakarta hanya menunggu para peserta kerumunan itu melapor jika terinfeksi Covid19.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini