Jutaan WNI Kumpulkan Rp 130 Miliar Bantu Tangani Covid19

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sifat gotong-royong warga Indonesia yang peduli penanganan Covid19 mencapai Rp 130 miliar melalui laman kitabisa.com. Pendiri dan CEO laman itu, Al Fatih Timur mengatakan jutaan penggalang dana dan donatur berpartisipasi pada aksi bantuan tersebut sejak pandemi dinyatakan masuk Indonesia.

“Kami menjadi saksi gotong royong yang terjadi selama dua bulan terakhir ini,” kata Fatih di Jakarta, Jumat 15 Mei 2020.

Fatih mengatakan masyarakat ternyata mau bergotong royong, salah satunya melalui kitabisa.com.

Menurut dia, platform kitabisa.com memang dibentuk karena terinspirasi salah satu ciri masyarakat Indonesia yang gemar bergotong royong.

Bung Hatta pernah bilang masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang komunal dan suka bergotong royong. Di tengah pandemi Covid19 ini, menurut Fatih, kita memang harus saling tolong menolong.

Dia juga menegaskan budaya penggunaan uang elektronik dan dompet digital semakin memudahkan masyarakat untuk berdonasi secara daring.

Salah satu kisah inspiratif yang dibagikan kitabisa.com adalah ketika ada seorang anak kelas 6 SD bernama Rifdah Rahmah yang menyumbang Rp 15.000 untuk pengadaan alat pelindung diri tenaga kesehatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini