Jokowi: Saya Tidak Pertimbangkan Perolehan Suara untuk Membangun Daerah

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Dalam memimpin Indonesia, Jokowi menegaskan tidak mempedulikan hasil perolehan suaranya di sebuah daerah. Dia tegas menyatakan membangun negara memang berdasarkan kebutuhan daerah itu.

“Tidak, bukan perolehan suara,” ujar Jokowi menjawab seorang presenter televisi yang dikutip Kamis 25 April 2019.

Jokowi menegaskan, jika pertimbangan utamanya membangun negara ini adalah perolehan suara dia hanya akan memusatkan pembangunan di Jawa saja.

Alasannya pulau sekecil Jawa dihuni 149 juta manusia Indonesia. Jadi dengan menyenangkan mereka pasti kita akan memiliki modal suara untuk memenangkan Pemilu.

Saat ditanya presenter itu, Rabu 24 April 2019, Jokowi menegaskan ingin membangun negara.

Persoalan utama pembangunan kita adalah terlalu jelasnya ketimpangan antara bagian barat, tengah dan timur Indonesia.

Hal tersebut yang menurut Jokowi ingin dikejar negara ini. Jadi dia mengingatkan masyarakat jangan berpikiran Jokowi membangun sebuah daerah karena pertimbangan elektoral semata-mata.

Dia menegaskan pembangunan sebuah daerah dilakukan karena memang untuk mengejar ketertinggalan daerah tersebut. Jika nanti ada efek elektoral itu soal lain.

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini