Indonesia Terpapar Corona, Rupiah Diramalkan Balik Merah Merona

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS diramalkan akan kembali melemah pada perdagangan, Selasa 3 Maret 2020.

Kemarin, rupiah ditutup pada posisi Rp 14.265 atau menguat 0,58 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim meramalkan laju pelemahan rupiah akan berkisar pada Rp 14.210 hingga Rp 14.320 per dolar AS.

Ia mengatakan laju mata uang garuda hari ini masih akan dibayangi oleh sejumlah sentimen dari luar negeri antara lain sebagai berikut.

Pertama, soal isu penurunan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau The Fed. Sejumlah investor kian yakin kalau The Fed mungkin melonggarkan kebijakan moneter untuk beberapa bulan ke depan.

“Pelonggaran kebijakan ini sebagai respon atas penyebaran virus corona dari Cina ke puluhan negara dan potensi pukulan yang melumpuhkan ekonomi global termasuk AS,” ujar Ibrahim.

Kedua, soal rilis data WHO (World Health Organization) di awal Februari soal virus corona. Virus ini kian meyebar secara pesat ke segala arah dan sulit dideteksi.

“WHO dikabarkan sudah tidak bisa lagi memonitor virus Corona, karena sudah menyebar di 48 negara, yang terbaru di Afrika yaitu Nigeria,” kata Ibrahim.

Sementara dari dalam negeri, pasca diumumkannya Indonesia positif wabah Covid-19 oleh Presiden Joko Widodo pada hari ini, pelaku pasar semakin khawatir terhadap wabah virus tersebut.

Apalagi, wabah tersebut terbukti mampu memporak porandakan fondasi ketahanan ekonomi yang sudah dibangun begitu kuat.

Hasil jerih payah yang sudah dilakukan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia untuk menstabilkan perekonomian dan mata uangnya hancur lebur akibat wabah Covid-9 yang lebih buruk dibandingkan perang dagang dan Brexit.

Akibat meluasnya wabah virus Corona, lanjutnya, menyebabkan goncangan ekonomi secara global termasuk Indonesia. Namun persentasenya masih relatif kecil dibandingkan negara-negara lainnya yaitu hanya 1,08 persen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini