Indonesia Berduka, Pencetus Papua Barat, Bram Atururi, Meninggal Dunia

Baca Juga

MINEWS.ID, MANOKWARI – Indonesia dan Papua, terutama Papua Barat kehilangan salah satu putra terbaiknya, setelah Jum’at 20 September 2019 dini hari gubernur pertama Papua Barat, Brigadir Jenderal Marinir Abraham Octavianus Atururi wafat setelah sakit cukup lama di Manokwari.

Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Setda Papua Barat, Melkias Werinussa, mengatakan, almarhum meninggal di Rumah Sakit Dr Azhar Zahir TNI Angkatan Laut Manokwari pada pergantian hari sekitar pukul 00.15 WIT dini hari tadi.

“Dari kemarin (Kamis, 19/9) sore kami sudah menerima informasi bahwa beliau dalam kondisi kritis di rumah sakit, namun karena masih sementara melaksanakan ibadah jadi malamnya baru kami bisa ke rumah sakit. Bapak Bram meninggal sekitar pukul 00:15 WIT,” kata Melkias.

Melkias mengutarakan Pemerintah Provinsi Papua Barat sedang berusaha agar almarhum Bram dapat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Bram seperti dilansir antara dikenal sebagai tokoh pemekaran dan pencentus pembangunan di Papua Barat. Pada persiapan pembentukan provinsi itu, Bram menjadi penjabata gubernur periode 2003-2005, setelah itu diangkat menjadi gubernur dua periode, yaitu 2006-2011 dan 2012-2017.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini