IHSG Diramalkan Lanjutkan Pelemahan, Simak Sejumlah Saham Pilihan

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) alias tolok ukur sejumlah perdagangan di BEI diramalkan masih akan melemah pada Selasa, 7 Oktober 2019.

Sebagai perbandingan, kemarin IHSG ditutup melemah signifikan 1 persen di level 6.000,58.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan bahwa hari ini, IHSG akan melemah dengan support pertama maupun kedua memiliki range pada 5.907,12 hingga 5.822,47.

Sementara itu, resistance pertama maupun kedua memiliki range pada 6.077,33 hingga 6.138,25.

Nafan mengatakan potensi lanjutan pelemahan bagi IHSG terlihat dari indikator MACD yang masih berada di area negatif.

“Sementara itu, Stochastic dan RSI bergerak ke bawah di area oversold atau jenuh jual,” kata dia kemarin sore.

Di sisi lain, kata dia, terlihat pola bearish engulfing line candlestick pattern, yang mengindikasikan adanya potensi bearish continuation (pelemahan lanjutan) pada pergerakan IHSG di hari ini.

Selain itu, Nafan juga menyertakan sejumlah rekomendasi saham yang dapat menjadi pertimbangan investor, antara lain sebagai berikut.

1. ACES, Daily (1750) (RoE: 21.23%; PER: 31.18x; EPS: 55.48; PBV: 6.64x; Beta: 1.55): Pergerakan harga saham telah menguji beberapa garis MA 20, 120 dan 200 sehingga peluang terjadinya penguatan terbuka lebar. “Akumulasi Beli” pada area level 1730 – 1750, dengan target harga secara bertahap di level 1765, 1775 dan 1815. Support: 1700.

2. BBRI, Daily (3900) (RoE: 16.25%; PER: 14.73x; EPS: 264.78; PBV: 2.39x; Beta: 1.65): Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola upward bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. “Akumulasi Beli” pada area level 3860 – 3910, dengan target harga secara bertahap di level 4070, 4330, 4660 dan 5125. Support: 3810 & 3660.

3. BBTN, Daily (1815) (RoE: 10.32%; PER: 7.29x; EPS: 248.82; PBV: 0.75x; Beta: 1.84): Terlihat pola tweezer bottom candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli pada pergerakan harga saham. “Akumulasi Beli” pada area 1800 – 1820, dengan target harga secara bertahap di level 1920 dan 1990. Support: 1750.

4. MEDC, Daily (645) (RoE: 3.86%; PER: 14.59x; EPS: 44.20; PBV: 0.56x; Beta: 2.23): Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola upward bar yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. “Akumulasi Beli” pada area level 635 – 650, dengan target harga secara bertahap di level 675 dan 715. Support: 625 & 615.

5. TINS, Daily (900) (RoE: 6.25%; PER: 16.22x; EPS: 55.48; PBV: 1.02x; Beta: 1.52): Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola inverted hammer candle yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. “Akumulasi Beli” pada area level 890 – 910, dengan target harga secara bertahap di level 925, 1240 and 1880. Support: 850.

6. TOWR, Daily (615) (RoE: 23.95%; PER: 15.91x; EPS: 38.96; PBV: 3.81x; Beta: 0.32): Pergerakan harga masih bertahan di atas garis bawah dari bollinger dan terlihat pola morning star candlestick pattern yang mengindikasikan adanya potensi stimulus beli. “Akumulasi Beli” pada area 610 – 620, dengan target harga di level 645. Support: 600.

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini