Hepatitis A Serang Kampung Halaman SBY, Korban Nyaris 1.000 Orang

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Virus hepatitis A tengah menyerang kampung Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, yakni Pacitan, Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, virus itu sudah memakan korban sampai hampir 1.000 orang.

Dari data Dinas Kesehatan Jawa Timur, per Senin 1 Juli 2019, jumlah korban telah menyentuh angka 975 orang. Jumlah itu bertambah sejak pada 27 Juni lalu terdata ada 824 orang, lalu 29 Juni naik menjadi 924 orang, kemudian 30 Juni terus naik menjadi 957 orang.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono menduga air minum dan makanan tercemar jadi sumber penularan penyakit tersebut.

Makanan yang diduga menjadi pengantar virus Hepatitis A diantaranya adalah cincau yang banyak dikonsumsi warga saat bulan Ramadan lalu yang dikhawatirkan proses pembuatannya tidak bersih.

Dugaan makanan lainnya adalah makanan yang disajikan pada saat syukuran pada momen-momen lebaran mengingat masa inkubasi virus ini adalah 15 hingga 50 hari. Kemudian dugaan berikutnya adalah persoalan sumber air bersih di Pacitan yang diduga terdapat virus hepatitis A.

Adapun sumber air bersih yang biasanya digunakan oleh Warga Pacitan berasal dari Sungai Sukorejo, yang disepanjang aliran sungai banyak limbah rumah tangga yang mengalir ke sungai dan mengandung bakteri negatif Escherichia coli atau biasa dikenal E.coli.

Air tersebut didistribusikan melalui mobil tangki untuk dijual ke masyarakat sebagai sumber air bersih. Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merespons kejadian luar biasa (KLB) di Pacitan tersebut.

Ia menyarankan pihak Kemenskes segera kirimkan vaksin maupun obat-obatan lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat di sana.

Politikus Golkar itu juga mengimbau agar Kemenkes memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait penyebaran hepatitis A serta tata cara berperilaku hidup sehat guna menghindari tertularnya virus penyakit tersebut. (Krisantus de Rosari Binsasi)

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini