Gubernur Anies Bawa-Bawa Nama Jokowi Soal Cabut Kasasi Pembebasan Lahan Bidara Cina

Baca Juga

MINEWS.ID, YOGYAKARTA – Gubernur Anies Baswedan menyebut nama Presiden Jokowi soal pencabutan kasasi kasus pembebasan lahan untuk sodetan Kali Ciliwung di Bidara Cina, Jakarta Timur. Sekarang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mengukur ulang kebutuhan lahan sodetan dan akan memberikan ganti rugi yang sesuai.

“Saya sudah bicarakan persoalan ini dengan Pak Presiden. Sudah sejak tahun lalu dan memang sepakat tidak diteruskan,” ujar Anies di Jakarta, Kamis 19 September 2019.

Seperti dilansir antara, Anies mengungkapkan Presiden Jokowi sejak lama sudah menyetujui langkah mencabut kasasi pembebasan lahan tersebut.

Anies mengungkapkan, pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah setuju mencabut semua kasasi pembebasan lahan di kawasan itu.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut juga menuding Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang akan membayar ganti rugi lahan warga yang dibebaskan.

Proyek sodetan Kali Ciliwung tersebut terhambat pembebasan lahan pada tahun 2015. Warga Bidara Cina melayangkan gugatan atas Surat Keputusan Gubernur Nomor 2779 Tahun 2015.

Gugatan itu dilayangkan karena ada perubahan lokasi sodetan dari yang ditetapkan sebelumnya. Perubahan lokasi tersebut dilakukan tanpa pemberitahuan kepada warga yang terdampak penggusuran.

Dalam prosesnya, PTUN memenangkan gugatan warga Bidara Cina tersebut. Majelis hakim memerintahkan Pemprov DKI Jakarta untuk menghitung ulang lahan yang dibutuhkan dan membayar ganti rugi kepada warga yang rumahnya sudah terlanjur digusur.

Di tingkat banding, pengadilan kembali memenangkan gugatan warga. Basuki Tjahja Purnama yang kala itu menjabat Gubernur DKI Jakarta pun akhirnya mengajukan kasasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini