Forbes Keluarkan Daftar Bank Terbaik di Indonesia, Siapa Nomor 1?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Siapa bank terbaik di Indonesia? Nah Majalah Forbes merilis daftar bank terbaik yang ada di dunia, termasuk di Indonesia. Namanya World’s Best Banks 2022. Forbes melakukan riset ini kepada lebih dari 45.000 pelanggan dari 27 negara untuk menentukan peringkatnya.

Nilai riset berdasarkan kepuasan umum serta metrik utama seperti kepercayaan, biaya, layanan digital, dan saran keuangan.

Khusus untuk Indonesia, Forbes menempatkan 20 bank terbaik. Berdasarkan riset yang mereka lakukan ternyata Bank Central Asia (BCA) menduduki peringkat pertama. Forbes menyebut BCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia dengan jumlah pegawai BCA sekitar 24.603 orang.

Hingga kuartal I 2022, BCA meraup laba bersih sebesar Rp 8,1 triliun. Tumbuh 14,6 persen secara tahunan (yoy). Peningkatan laba bersih tersebut karena pertumbuhan bisnis, antara lain peningkatan aktivitas kredit, transaksi, dan CASA. Seiring dengan pemulihan perekonomian nasional, total kredit naik 8,6 persen (yoy). Pertumbuhan kredit terjadi di semua segmen, baik kredit untuk bisnis maupun konsumsi.

Sementara itu, di urutan kedua ada DBS, perbankan asal Singapura. Urutan ketiga ada bank pelat merah, Bank Mandiri. Selanjutnya di urutan keempat, United Overseas Bank. Lalu di urutan kelima Bank Syariah Indonesia.

Berikut daftar bank terbaik tahun 2022 di Indonesia versi Forbes:

1. Bank Central Asia

2. DBS

3. Bank Mandiri

4. United Overseas Bank

5. Bank Syariah Indonesia

6. Citibank

7. Bank Jago

8. BCA Syariah

9. HSBC Holdings

10. Bank Negara Indonesia

11. Panin Bank

12. Bank Rakyat Indonesia

13. BNC

14. Maybank

15. Bank DKI

16. OCBC NISP

17. CIMB Niaga

18. Bank Permata

19. Jenius

20. Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Ekonomi Rakyat dan Rupiah: Kuat Lewat Kebijakan Stabilisasi yang Terukur

Oleh: Dhita Karuniawati )*Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju, Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwafondasi ekonomi Indonesia relatif mampu bertahan dari berbagai tekanan eksternal. Salah satu faktor utama yang mendukung ketahanan tersebut adalah kebijakanstabilisasi ekonomi yang dijalankan secara terukur dan terkoordinasi.Stabilitas ekonomi bukan sekadar persoalan angka-angka makro seperti pertumbuhanekonomi, inflasi, atau nilai tukar rupiah. Di balik itu, terdapat kepentingan yang lebihbesar, yakni menjaga daya beli masyarakat, memastikan keberlangsungan usaha mikrodan kecil, serta menciptakan kepastian bagi dunia usaha. Oleh karena itu, setiapkebijakan ekonomi yang ditempuh pemerintah perlu memiliki orientasi yang jelasterhadap kesejahteraan rakyat.Nilai tukar rupiah sering kali menjadi indikator yang mendapat perhatian luas darimasyarakat. Ketika rupiah mengalami tekanan, dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai lapisan ekonomi, mulai dari kenaikan harga bahan baku impor hinggameningkatnya biaya produksi. Sebaliknya, rupiah yang stabil memberikan ruang bagipelaku usaha untuk merencanakan kegiatan bisnis dengan lebih baik dan menjaga harga barang tetap terkendali.Dalam konteks inilah sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi sangat penting. Kebijakan fiskal yang adaptif mampu memberikan bantalan terhadap gejolakekonomi global, sementara kebijakan moneter menjaga stabilitas harga dan nilai tukar. Keduanya harus berjalan beriringan agar tujuan pembangunan ekonomi dapat tercapaisecara optimal.Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan bahwa pemerintah telahmenyiapkan tiga strategi utama untuk menghadapi dinamika global. Strategi pertamaadalah mengarahkan belanja negara pada sektor yang lebih produktif guna mendorongpertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.Selain itu, pemerintah terus mengoptimalkan penerimaan negara melalui penguatanadministrasi perpajakan dan reformasi sistem perpajakan. Langkah ini dilakukan agar ruang fiskal tetap terjaga dan mampu mendukung berbagai program prioritas nasional. Di sisi pembiayaan, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber pendanaan untukmengurangi risiko dari gejolak pasar keuangan global.Menurut Juda Agung, efektivitas strategi tersebut tercermin dari berbagai indikatorekonomi yang tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada pada...
- Advertisement -

Baca berita yang ini