Di Antara Non-Produsen, Laju Penyuntikan Vaksin Covid-19 di Indonesia Terbaik

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Di antara negara non-produsen, Indonesia merupakan negara terbaik dalam laju penyuntikan Vaksin Covid-19. Saat ini, sudah 175 juta warga Indonesia menerima vaksin.

Hal itu diungkapkan Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, Kamis 21 Oktober 2021.

“Vaksinasi di tanah air sudah menyentuh 110 juta masyarakat yang mendapat dosis pertama dan 65 juta warga yang mendapat dosis kedua,” ujar Nadia.

Menurutnya, lobi pemerintah dalam pengadaan vaksin bisa disebut sangat berhasil karena di antara 9 miliar produksi dosis vaksin, Indonesia masih mampu mengamankan ratusan juta dosis.

Padahal, kebutuhan vaksin Indonesia, menurut Nadia, 426 juta dosis dan lebih dari separuhnya sudah berhasil didatangkan ke tanah air.

Dari jumlah penduduk yang sudah mendapat vaksin, Indonesia berada di peringkat keenam dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini