Dewan Adat Biak dan Tokoh Masyarakat Dani Dukung Otsus Jilid II untuk Kesejahteraan Papua

Baca Juga

MATA INDONESIA, BIAK – Upaya pemerintah Indonesia memperpanjang kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) untuk Papua dan Papua Barat mendapat sambutan hangat dari kalangan tokoh adat maupun tokoh masyarakat setempat.

Sekertaris Dewan Adat Biak Mun Supiori Kililon Korwa menegaskan bahwa dirinya mendukung kelanjutan Otsus Papua jilid II. Menurutnya, Otsus harus tetap berjalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua.

Namun, ia berharap agar UU Otsus jilid II perlu dikaji secara mendalam sehingga penyaluran dana Otsus kelak dapat menyentuh rakyat.

“Pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar dapat serius mendorong dan mengakomodir pengelolaan Otsus sehingga tidak ada gejolak di masyarakat dan kita dapat bersama-sama membangun Papua dalam bingkai NKRI,” ujarnya, dikutip Senin 13 September 2021.

Kililon juga mengimbau kepada semua masyarakat Papua untuk melihat Otsus dari sisi kesejahteraan. Ia meminta kepada masyarakat Papua agar mendukung setiap kebijakan maupun langkah-langkah yang diambil pemerintah pusat dalam rangka mensejahterakan rakyat Papua, terkhusus Kab. Supiori.

“Berkaitan dengan rencana pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di Tanah Papua, kami selaku tokoh adat menyetujui dan mendukung pemerintah memberikan kebijakan untuk Papua dimekarkan menjadi beberapa Provinsi untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua,” katanya.

Ia pun memberikan dukungannya atas rencana penyelenggaraan PON XX 2021 di Papua. Ia juga mengajak seluruh masyarakat menyukseskan PON XX karena hal ini merupakan bagian dari pembangunan Papua.

“Kehadiran para atlet dari seluruh Indonesia menjadi kebanggaan bagi masyarakat Papua,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Tokoh Masyarakat Suku Dani, di Wilayah Distrik Wanggar, Kabupaten Nabire yang bernama Philipus Wenda. Ia sangat setuju dengan rencana pemerintah pusat yang melanjutkan kebijakan Otsus jilid II. Sebab Tanah Papua masih memerlukan pembangunan infrastuktur, baik di tingkat Kabupaten hingga Distrik dan kampung-kampung.

Ia juga menilai kehadiran Otsus telah mendatangkan banyak manfaat bagi masyarakat Papua, terutama masyarakat pegunungan di Nabire.

“Buktinya, banyak anak muda yang sekarang bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi baik di Papua maupun luar Papua,” katanya.

Philipus mengungkapkan bahwa masih adanya masyarakat pegunungan yang menganggap Otsus tidak berhasil. Menurutnya, hal itu disebabkan karena dana otsus tersebut hanya dinikmati oleh para elit politik.

“Selain itu, masih kurang sosialisasi dari pemerintah pusat maupun daerah terkait Otsus Papua,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini