Daftar Lengkap Daerah yang Pilkada Hari Ini

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 dilaksanakan Rabu, 9 Desember 2020 di tengah hiruk pikuknya pandemi Covid19.

Dilaksanakan di 270 daerah yang terdiri dari 9 provinsi, 37 kota dan 224 kabupaten. Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Evi Novia Ginting Manik mengatakan seharusnya hanya ada 36 kota yang menggelar Pilkada tahun ini, namun kota Makassar harus mengulang karena pada 2018 tidak ada pemenangnya.

Sebanyak 715 pasangan calon siap meramaikan Pilkada 2020 di 270 daerah. Di antaranya ada 24 calon gubernur dan wakil gubernur uang tersebar di 9 provinsi.

Pada tingkat kabupaten/kota, terdapat 691 pasangan calon bupati dan wakil bupati serta ada calon wakil wali kota yang tersebar di 260 kabupaten/kota.

Untuk menegtahui daerah mana saja yang akan menggelar Pilkada, berikut ini adalah daftar 270 daerah yang melaksanakan Pilkada 2020 berikut daftar rincinya:

A. Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur (9 provinsi)
Sumatera Barat
Jambi
Bengkulu
Kepulauan Riau
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Utara
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tengah

B. Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (37 kota)
Denpasar, Bali
Cilegon, Banten
Tangerang Selatan, Banten
Sungai Penuh, Jambi
Depok, Jawa Barat
Semarang, Jawa Tengah
Surakarta, Jawa Tengah
Pekalongan, Jawa Tengah
Magelang, Jawa Tengah
Blitar, Jawa Tengah
Surabaya, Jawa Timur
Pasuruan, Jawa Timur
Banjarbaru, Kalimantan Selatan
Banjarmasin, Kalimantan Selatan
Samarinda, Kalimantan Timur
Bontang, Kalimantan Timur
Balikpapan, Kalimantan Timur
Batam, Riau
Metro, Lampung
Ternate, Maluku Utara
Tidore Kepulauan, Maluku Utara
Mataram, Nusa Tenggara Barat
Dumai, Riau
Palu, Sulawesi tengah
Manado, Sulawesi Utara
Tomohon, Sulawesi Utara
Bitung, Sulawesi Utara
Solok, Sumatera Barat
Bukittinggi, Sumatera Barat
Binjai, Sumatera Utara
Medan, Sumatera Utara
Sibolga, Sumatera Utara
Pematangsiantar, Sumatera Utara
Tanjung Balai, Sumatera Utara
Gunung Sitoli, Sumatera Utara
Bandar Lampung, Lampung
Makassar, Sulsel

C. Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (224 kabupaten)
Karang Asem, Bali
Badung, Bali
Bangli, Bali
Tabanan, Bali
Jembrana, Bali
Serang, Banten
Padeglang, Banten
Mukomuko, Bengkulu
Seluma, Bengkulu
Kepahiang, Bengkulu
Lebong, Bengkulu
Bengkulu Selatan, Bengkulu
Rejang Lebong, Bengkulu
Bengkulu Utara, Bengkulu
Kaur, Bengkulu
Bantul, Yogyakarta
Gunung Kidul, Yogyakarta
Sleman, Yogyakarta
Gorontalo, Gorontalo
Bone Bolango, Gorontalo
Pohuwato, Gorontalo
Tanjung Jabung Barat, Jambi
Batanghari, Jambi
Tanjung Jbng Timur, Jambi
Bungo, Jambi
Sukabumi, Jawa Barat
Indramayu, Jawa Barat
Bandung, Jawa Barat
Pangandaran, Jawa Barat
Karawang, Jawa Barat
Tasikmalaya, Jawa Barat
Cianjur, Jawa Barat
Rembang, Jawa Tengah
Kebumen, Jawa Tengah
Purbalingga, Jawa Tengah
Boyolali, Jawa Tengah
Blora, Jawa Tengah
Kendal, Jawa Tengah
Sukoharjo, Jawa Tengah
Semarang, Jawa Tengah
Wonosobo, Jawa Tengah
Purworejo, Jawa Tengah
Klaten, Jawa Tengah
Wonogiri, Jawa Tengah
Pemalang, Jawa Tengah
Grogoban, Jawa Tengah
Demak, Jawa Tengah
Sragen, Jawa Tengah
Pekalongan, Jawa Tengah
Ngawi, Jawa Timur
Jember, Jawa Timur
Ponorogo, Jawa Timur
Lamongan, Jawa Timur
Kediri, Jawa Timur
Situbondo, Jawa Timur
Gresik, Jawa Timur
Trenggalek, Jawa Timur
Mojokerto, Jawa Timur
Sumenep, Jawa Timur
Banyuwangi, Jawa Timur
Malang, Jawa Timur
Sidoarjo, Jawa Timur
Gresik, Jawa Timur
Pacitan, Jawa Timur
Kapuas Hulu, Kalimantan Barat
Bengkayang, Kalimantan Barat
Sekadau, Kalimantan Barat
Melawi, Kalimantan Barat
Sintang, Kalimantan Barat
Ketapang, Kalimantan Barat
Sambas, Kalimantan Barat
Banjar, Kalimantan Selatan
Kota Baru, Kalimantan Selatan
Balangan, Kalimantan Selatan
Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan
Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan
Kotawaringin Timur, Kalimantan Timur
Mahakam Ulu, Kalimantan Timur
Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Paser, Kalimantan Timur
Berau, Kalimantan Timur
Kutai Timur, Kalimantan Timur
Kutai Barat, Kalimantan Timur
Tana Tidung, Kalimantan Timur
Bulungan, Kalimantan Utara
Maliunau, Kalimantan Utara
Nunukan, Kalimantan Utara
Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung
Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung
Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung
Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung
Kep Anambas, Kepulauan Riau
Bintan, Kepulauan Riau
Lingga, Kepulauan Riau
Karimun, Kepulauan Riau
Natuna, Kepulauan Riau
Pesisir Barat, Lampung
Lampung Selatan, Lampung
Way Kanan, Lampung
Lampung Timur, Lampung
Pesawaran, Lampung
Lampung Tengah, Lampung
Kepulauan Aru, Maluku
Seram Bagian Timur, Maluku
Maluku Barat Daya, Maluku
Buru Selatan, Maluku
Taliabu, Maluku Utara
Halmahera Timur, Maluku Utara
Kepulauan Sula, Maluku Utara
Halmahera Utara, Maluku Utara
Halmahera Selatan, Maluku Utara
Halmahera Barat, Maluku Utara
Lombok Utara, NTB
Bima, Nusa Tenggara Barat
Sumbawa Barat, NTB
Dompu, NTB
Lombok Tengah, NTB
Sumbawa, NTB
Belu, Nusa Tenggara Timur 1
Malaka, NTT
Manggarai Barat, NTT
Sumba Timur, NTT
Manggarai, NTT
Ngada, NTT
Sumba Barat, NTT
Timor Tengah Utara, NTT
Sabu Raijua, NTT
Nabire, NTT
Asmat, Papua
Keerom, Papua
Warofen, Papua
Merauke, Papua
Membramo Raya, Papua
Pegunungan Bintang, Papua
Boven Digoel, Papua
Yahukimo, Papua
Supiori, Papua
Yalimo, Papua
Pegunungan Arfak, Papua
Manikwari Selatan, Papua Barat
Sorong Selatan, Papua Barat
Raja Ampat, Papua Barat
Kaimana, Papua Barat
Teluk Bintuni, Papua Barat
Fakfak, Papua Barat
Teluk Wondama, Papua Barat
Manokwari, Papua Barat
Kepulauan Meranti, Riau
Indragiri Hulu, Riau
Bengkalis, Riau
Pelalawan, Riau
Rokan Hulu, Riau
Kuatan Singingi, Riau
Rokan Hlir, Riau
Siak, Riau
Mamuju Tengah, Sulawesi Barat
Mamuju Utara, Sulawesi Barat
Mamuju, Sulawesi Barat
Majene, Sulawesi Barat
Pangkajene, Sulawesi Selatan
Barru, Sulawesi Selatan
Gowa, Sulawesi Selatan
Maros, Sulawesi Selatan
Luwu Timur, Sulawesi Selatan
Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Kep Selayar, Sulawesi Selatan
Soppeng, Sulawesi Selatan
Luwu Utara, Sulawesi Selatan
Bulukumba, Sulawesi Selatan
Toraja Utara, Sulawesi Selatan
Banggai Laut, Sulawesi Tengah
Tojo Una-Una, Sulawesi tengah
Poso, Sulawesi Tengah
Toli-Toli, Sulawesi Tengah
Morowali Utara, Sulawesi Tengah
Sigi, Sulawesi Tengah
Banggai, Sulawesi Tengah
Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara
Buton Utara, Sulawesi Tenggara
Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara
Muna, Sulawesi Tenggara
Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara
Konawe Utara, Sulawesi Tenggara
Wakatobi, Sulawesi Tenggara
Bolaang Mongondow (Bolmong) Timur, Sulawesi Utara
Minahasa Utara, Sulawesi Utara
Minahasa Selatan, Sulawesi Utara
Bolaang Mongondow
Solok, Sumatera Barat
Dharmasraya, Sumbar
Solok Selatan, Sumbar
Pasaman Barat, Sumbar
Pasaman, Sumbar
Pesisir Selatan, Sumbar
Sijunjung, Sumbar
Tanah Datar, Sumbar
Padang Pariaman, Sumbar
Agam, Sumbar
Lima Puluh Kota, Sumbar
Musirawas Utara, Sumatera Selatan
Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan
Ogan Komering Hulu, Sumsel
Ogan Ilir, Sumsel
Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumsel
Musi Rawas, Sumsel
Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumsel
Serdang Bedagai, Sumatera Utara
Tapanuli Selatan, Sumatera Utara
Toba Samosir, Sumatera Utara
Labuhan Batu, Sumatera Utara
Asahan, Sumatera Utara
Pakpak Bharat, Sumatera Utara
Humbang Hasundutan, Sumatera Utara
Samosir, Sumatera Utara
Simalungun, Sumatera Utara
Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara
Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara
Karo, Sumatera Utara
Nias Selatan, Sumatera Utara
Nias Utara, Sumatera Utara
Nias Barat, Sumatera Utara
Nias, Sumatera Utara
Mandailing Natal, Sumatera Utara

(May Diana Putri Nahari)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Satgas Mitigasi PHK dan Deteksi Dini Kondisi Perusahaan

Oleh: Citra Kurnia Khudori)*Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan hanya persoalan hubunganindustrial, tetapi juga menjadi indikator kesehatan ekonomi nasional. Ketika perusahaan mulai mengalami tekanan akibat perlambatan ekonomi, gangguan rantaipasok, atau kenaikan biaya produksi, dampak pertama yang paling dirasakan seringkali adalah berkurangnya kesempatan kerja bagi masyarakat.Karena itu, pendekatan pemerintah dalam menghadapi ancaman PHK tidak lagicukup dilakukan setelah pekerja kehilangan pekerjaan. Yang jauh lebih pentingadalah membangun sistem deteksi dini yang mampu membaca kondisi perusahaansejak awal sehingga berbagai persoalan dapat diselesaikan sebelum berujung pada pengurangan tenaga kerja. Kehadiran Satgas Mitigasi PHK menjadi bagian dariupaya menggeser pendekatan pemerintah dari yang semula bersifat reaktif menjadilebih preventif.Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menjelaskan bahwa Satgas Mitigasi PHK dibentuk untuk menjalankan fungsi peringatan dini (early warning) terhadap sektor-sektor industri yang berpotensi melakukan PHK. Menurutnya, satgas tidak hanyamemantau perkembangan kondisi perusahaan, tetapi juga mengidentifikasi kasus-kasus yang memerlukan intervensi pemerintah agar persoalan hubungan industrial dapat diselesaikan sebelum berujung pada pemutusan hubungan kerja.Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah memandang PHK sebagaiproses yang sebenarnya dapat dicegah apabila berbagai indikator risiko dapatdikenali lebih awal. Dalam banyak kasus, perusahaan tidak serta-merta melakukanPHK, melainkan melalui tahapan yang cukup panjang mulai dari munculnya tekananbisnis, penurunan produksi, kesulitan memperoleh bahan baku, hinggamemburuknya kondisi keuangan perusahaan.Karena itu, sistem pemantauan menjadi sangat penting. Pemerintah memerlukandata yang mampu menggambarkan kondisi riil dunia usaha sehingga setiap potensipersoalan dapat dipetakan berdasarkan tingkat risikonya, sekaligus menentukanbentuk intervensi yang paling tepat sesuai karakteristik masing-masing perusahaan.Yassierli juga mengungkapkan bahwa setiap persoalan ketenagakerjaan memilikikarakter yang berbeda sehingga tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan yang sama. Ada kasus yang cukup diselesaikan melalui komunikasi bipartit antaraperusahaan dan pekerja, ada yang membutuhkan mediasi pemerintah, sementarasebagian lainnya memerlukan koordinasi lintas kementerian karena dipengaruhifaktor-faktor di luar hubungan industrial, seperti kebijakan energi maupun dinamikaekonomi global.Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa perlindungan terhadap tenaga kerjakini tidak hanya berfokus pada penyelesaian konflik setelah terjadi PHK. Pemerintahmulai membangun mekanisme yang mampu menghubungkan informasi dariberbagai sektor sehingga potensi gangguan terhadap dunia usaha dapat segeraditangani sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.Keberadaan Satgas Mitigasi PHK juga memperkuat koordinasi antarlembaga yang selama ini sering berjalan secara terpisah. Dalam situasi ekonomi yang berubahcepat, pemerintah membutuhkan forum yang mampu mempertemukan kementerian, DPR, aparat penegak hukum, pelaku usaha, hingga serikat pekerja agar pengambilan keputusan berlangsung lebih cepat dan terintegrasi.Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Satgas Mitigasi PHK dibentuk untuk menjembatani berbagai pemangku kepentingan dalam memetakanpersoalan industri. Ia menjelaskan bahwa satgas akan melakukan monitoring terhadap perusahaan yang berpotensi melakukan PHK, bekerja sama dengan Desk Ketenagakerjaan Polri, serta melakukan mitigasi terhadap setiap kasus sesuai akarpersoalannya, termasuk apabila terdapat konflik internal perusahaan ataupunpersoalan pasokan bahan baku.Model kerja seperti ini menjadi penting karena penyebab PHK semakin kompleks. Persoalan tidak selalu berasal dari menurunnya permintaan pasar, tetapi juga dapatdipicu oleh gangguan pasokan energi, perubahan kebijakan perdaganganinternasional, konflik manajemen, hingga tekanan geopolitik global yang memengaruhi biaya produksi perusahaan.Dengan memahami akar persoalan secara lebih komprehensif, pemerintah memilikipeluang lebih besar untuk menyusun solusi yang tepat sasaran. Intervensi tidak lagiberhenti pada penyelesaian hubungan industrial, tetapi juga menyentuh faktor-faktorekonomi yang menjadi penyebab utama melemahnya kondisi perusahaan.Upaya tersebut memperoleh dukungan dari DPR yang melihat pentingnya kolaborasiantara pemerintah dan parlemen dalam mengantisipasi meningkatnya angka PHK. Sinergi kelembagaan menjadi kunci agar berbagai persoalan di lapangan dapatsegera ditindaklanjuti tanpa harus menunggu situasi memburuk.Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengungkapkan komitmen DPR untukterus berkoordinasi dengan pemerintah melalui Satgas Mitigasi PHK. Menurut dia, pertemuan rutin antara pemerintah dan DPR diperlukan agar setiap perkembangankondisi dunia usaha dapat dipantau secara berkelanjutan sehingga langkah-langkahmitigasi dapat dilakukan lebih cepat sebelum gelombang PHK meluas.Dengan demikian, pembentukan Satgas Mitigasi PHK menunjukkan perubahanparadigma dalam kebijakan ketenagakerjaan nasional. Pemerintah tidak lagi hanyaberupaya memberikan perlindungan setelah pekerja kehilangan mata pencaharian, tetapi mulai membangun sistem yang mampu mendeteksi risiko sejak dini, menjagakeberlangsungan usaha, sekaligus mempertahankan lapangan kerja.Ke depan, efektivitas satgas akan sangat ditentukan oleh kualitas data, kecepatankoordinasi, dan kemampuan seluruh pemangku kepentingan merespons setiapsinyal pelemahan industri. Apabila sistem deteksi dini tersebut berjalan secarakonsisten, Satgas Mitigasi PHK tidak hanya menjadi instrumen penanganan krisisketenagakerjaan, tetapi juga fondasi penting dalam menciptakan iklim usaha yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia.)* Pemerhati isu sosial-ekonomi
- Advertisement -

Baca berita yang ini