Cucu Penumpas PKI Tawarkan Rekonsiliasi Nasional

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebagai cucu penumpas Partai Komunis Indonesia (PKI), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menawarkan rekonsiliasi nasional terus menerus diupayakan agar peristiwa di seputar 30 September 1965 tidak terjadi lagi.

Seperti diketahui kakek AHY adalah Letjen Sarwo Edhi Wibowo yang dijuluki “Penumpas PKI.” AHY juga mengetahui julukan itu saat dia tinggal di Kompleks Cijantung.

AHY masih mengingat dengan sangat cerita kakeknya saat Indonesia berada pada tahun 1965, tepatnya ketika gerakan itu beraksi menurut sang kakek yang dikenal dengan Pak Ageng itu Indonesia dalam situasi yang sangat mencekam.

Hal itu karena terjadi benturan ideologi yang korbannya justru bangsa sendiri dalam jumlah yang banyak.

Namun, peristiwa tersebut, menurut Ketua Umum Partai Demokrat, telah membuktikan Pancasila dipertahankan dengan keringat, air mata dan nyawa.

Menurut Agus, seperti diunggah di akun twitternya, Indonesia perlu melakukan rekonsiliasi nasional sebagai salah satu langkah merajut sejarah bangsa.

Meskipun sudah diupayakan Presiden Gus Dur, Megawati, SBY, hingga Jokowi, tetapi hal tersebut tidak mudah, jika meletakkan rekonsiliasi pada satu catatan sejarah saja.

Rekonsiliasi, menurutnya, harus menjadi kehendak seluruh elemen bangsa, termasuk para keluarga ulama, aktivis dan seluruh masyarakat yang menjadi korban ketidakadilan dalam lintasan sejarah bangsa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini