Bukan Cuma Keuntungan Ekonomi, Cinta Produk Lokal Bisa Cegah Pemanasan Global Akibat Emisi Karbon

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Emisi karbon adalah gas hasil pembakaran senyawa-senyawa yang mengandung karbon. Gas ini menjadi salah satu penyebab perubahan iklim dunia yang kita kenal dengan pemanasan global tapi bisa kita cegah antara lain dengan rajin mengonsumsi produk lokal.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan AS, emisi karbon dalam bentuk karbon dioksida menyebabkan lebih dari 80 persen gas rumah kaca yang dipancarkan di Amerika Serikat. Salah satunya akibat penggunaan bahan bakar fosil yang melepas karbon dioksida.

Emisi karbon ini meningkatkan suhu global dengan menjebak energi matahari di atmosfer. Kondisi tersebut akan mengubah persediaan air, pola cuaca, mengubah musim tanaman pangan, dan mengancam masyarakat pesisir dengan naiknya permukaan air laut.

Dampak Buruk Bagi Dunia
Hal tersebut akan berdampak pada perubahan iklim, yang bisa mengakibatkan bencana banjir, kelaparan, bahkan ketidakstabilan ekonomi sehingga sangat berbahaya untuk keberlangsungan makhluk hidup di dunia.

Selain itu, terdapat dampak lainnya seperti pola cuaca yang kurang stabil, kemarau yang lebih panjang, sering muncul angin puting beliung dan bencana alam lain seperti tanah longsor dan kekeringan.

Sementara salju, es laut, dan cakupan gletser akan berkurang karena suhu yang lebih tinggi, sehingga permukaan laut akan naik dan terjadi peningkatan banjir pesisir. Lapisan es di kutub utara juga akan mencair akibat peningkatan suhu.

Laju erosi pantai akan meningkat di sebagian besar wilayah dikarenakan musim dingin menjadi lebih sejuk dan lapisan es mengecil.

Terjadi peningkatan pada gelombang panas yang berisiko kebakaran hutan. Spesies satwa liar akan kesulitan beradaptasi dengan iklim hangat dan kemungkinan akan mengalami stres.

Risiko masalah pernapasan karena suhu yang meningkat akibat polusi yang buruk. Suhu bumi lebih tinggi sehingga meningkatkan risiko kematian karena dehidrasi dan sengatan panas.

Infrastruktur juga mudah rusak disebabkan cuaca ekstrem, kenaikan permukaan laut yang akan meningkat dan berdampak pada pengembangan sumber dan populasi lokal.

Mengurangi Dampak Emisi Karbon
Salah satu cara yang dapat mengurangi dampak emisi karbon adalah dengan carbon trading atau perdagangan karbon, apakah carbon trading itu?

Carbon trading merupakan perdagangan emisi karbon yang dilakukan antar negara untuk mengurangi emisi karbon dunia.

Perdagangan karbon ini membentuk target karbon dioksida (CO2) dengan satuan ton. Melalui transaksi ini, akan membantu menetapkan batas kuantitatif yang dihasilkan para penghasil emisi karbon.

Dengan adanya perdagangan karbon, negara yang memproduksi emisi dengan jumlah banyak, bisa mengeluarkan emisi karbon tersebut dari negaranya setelah bertransaksi dengan negara yang menghasilkan emisi lebih sedikit.

Selain itu yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari emisi karbon ialah dengan menghemat pemakaian listrik, berjalan kaki, menggunakan sepeda untuk transportasi menghindari karbon seluruhnya atau mengendarai kendaraan rendah karbon.

Lalu yang paling bisa diterapkan yaitu memilih makanan dan minuman yang berasal dari produk lokal. Karena itu berguna untuk mengurangi emisi CO2 yang didapat dari barang impor serta mengurangi konsumsi makanan yang ada jejak karbon produksi tinggi seperti daging. (Annisaa Rahmah)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini