Bintang Liga Premier Inggris Ini Takut Ngaku Gay

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Salah satu bintang sepak bola yang main di Liga Premier Inggris mengaku sebagai gay (penyuka sesama jenis). Tapi, dia takut berbicara hal tersebut ke publik.

Sejauh ini, belum ada pesepakbola profesional Liga Premier Inggris yang berbicara ke publik terkait orientasi seksual menyimpang.

Mereka takut dengan dampak yang terjadi andai mengaku sebagai lesbian, gay, biseksual, atau transgender (LGBT). Seorang pesepakbola Liga Premier Inggris yang tak mau disebut namanya berani mengaku sebagai gay.

Pengakuan itu ditulis dalam sebuah surat yang ditujukan kepada otoritas dan fans sepak bola. Pesepakbola itu didukung oleh Yayasan Justin Fashanu, mantan pesepakbola yang pada tahun 1990 mengaku gay dan bunuh diri di 1998.

Yayasan tersebut dikelola keponakan Fashanu, Amal, yang bergerak di bidang amal, memerangi homophobia dan rasisme di sepak bola. The Sun mendapatkan surat pengakuan pesepakbola tersebut dari Yayasan Justin Fashanu.

“Saya gay. Meskipun hanya menulis dalam sebuah surat, ini sudah merupakan langkah besar untuk saya. Hanya keluarga dan beberapa teman yang tahu dengan orientasi seksual saya,” bunyi surat tersebut, dikutip dari The Sun, Sabtu 11 Juli 2020.

“Bagaimana rasanya hidup seperti ini? Hari demi hari, ini bisa menjadi mimpi buruk dan semakin hari memengarui kesehatan mental saya. Saya merasa terperangkap dan ketakutan saya mengungkap kebenaran membuat semakin parah.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Satelit Indonesia dan Jalan Panjang Menjaga Kedaulatan Informasi Nasional

Oleh: Abdul Nuhaiman*Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kedaulataninformasi nasional melalui percepatan pembangunan infrastruktur satelit sebagaifondasi transformasi digital Indonesia. Langkah strategis tersebut tidak hanyamemastikan konektivitas menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tetapi juga memperkuat ketahanan nasional di bidangkomunikasi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan dan keamanan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, penguatan kapasitassatelit nasional menjadi bukti bahwa pemerintah mempersiapkan Indonesia agar mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing dalam mengelola ruang digital maupun ruang antariksa. Peluncuran satelit multifungsi SATRIA-1 menjadi salah satu langkah penting dalammemperluas akses internet, khususnya di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal. Satelit tersebut dirancang untuk melayani ribuan titik layanan publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hingga fasilitas pertahanan dan keamanan. Kehadiran satelit nasional bukan hanya mempersempit kesenjangan digital antarwilayah, tetapi juga memberikan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakatdalam memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi digital. Dengansemakin luasnya akses internet, peluang pengembangan usaha mikro, pembelajarandaring, dan pelayanan publik berbasis digital juga semakin meningkat.Di sisi lain, penguasaan satelit tidak cukup hanya dengan memiliki perangkat yang mengorbit di angkasa. Indonesia juga perlu membangun ekosistem industri antariksayang kuat, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, riset teknologi, manufaktur komponen, hingga kemampuan mengoperasikan dan memelihara satelitsecara mandiri. Selama ini sebagian besar teknologi satelit masih melibatkan kerjasama dengan perusahaan luar negeri. Kerja sama tersebut memang penting sebagaibagian dari transfer teknologi, namun dalam jangka panjang Indonesia perlumeningkatkan kemampuan nasional agar tidak terus bergantung pada negara lain. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri teknologi, dan pemerintah perlumemperkuat kolaborasi agar inovasi di bidang antariksa dapat berkembang secaraberkelanjutan.Selain aspek teknologi, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perlindunganterhadap data nasional. Perkembangan kecerdasan buatan, komputasi awan,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini