BIN Gelar Vaksinasi untuk 133 Orang di Boven Digoel

Baca Juga

MATA INDONESIA, BOVEN DIGOEL – Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Papua atau Binda Papua kembali melakukan vaksinasi lanjutan untuk pelajar dan masyarakat umum di Balai Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel.

Ketua Tim Vaksinasi Carlie Wisau Amir, S.Kep, Ners mengatakan bahwa dalam kegiatan vaksinasi hari ini, pihak berhasil memberikan vaksinasi untuk 133 orang masyarakat dan pelajar dari target 150 orang.

“Dengan rincian tahap I sebanyak 96 orang, tahap II sebanyak 37 orang, tertunda 17 orang karena tidak hadir,” ujarnya, Rabu 10 November 2021.

Ia mengungkapkan bahwa kegiatan vaksinasi ini dilakukan untuk mendukung program pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Tanah Papua.

Carlie pun menyampaikan terima kasih atas kehadiran peserta vaksinasi. Diharapkan dengan gebyar vaksinasi ini, bisa membantu pembentukan sistem kekebalan bersama.

“Sehingga kita dapat kembali beraktifitas normal kembali dan proses belajar mengajar dapat dilaksanakan,” katanya.

Ia juga berpesan kepada peserta yang sudah divaksinasi agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Di antaranya tetap memakai masker, mencuci tangan dan menjauhi kerumunan.

“Supaya kita terhindar dari Covid-19 dan keluarga dan tetangga tetap aman dari Covid-19,” ujarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini