Banyak Kota dan Pesertanya Mundur, Jakarta Malah Nekat Selenggarakan Formula E

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTAIndonesia sudah resmi akan menyelenggarakan balap Formula E tahun depan, padahal sejumlah negara lain justru memilih mundur menjadi tuan rumah.

Kota Montreal di Kanada misalnya mengundurkan diri menjadi tuan rumah Formula E karena saat menyelenggarakannya 2017 harus mengeluarkan biaya Rp 18,7 miliar dolar AS, namun saat lima tahun menjadi tuan rumah kota itu mengalami kerugian karena jumlah penonton yang sangat sedikit.

Kota Miami di Amerika Serikat pun membatalkan penyelenggaraan Formula E karena lintasan balapnya berada di daerah konservasi lahan basah.

Contoh lain lagi Kota Moskow yang membatalkan balapan formula tenaga baterai tersebut karena penutupan jalan di kota tersebut mengganggu.

Dua negara Cina dan Meksiko juga memilih mundur saat harus menggelar balapan di tengah pandemi yang penularannya masih tinggi karena harus memastikan kesehatan dan keselamatan staf perjalanan, peserta dan penonton.

Sementara Direktur Utama Jakpro (perusahaan milik Pemprov DKI Jakarta), Widi Amanasto, mengungkapkan ajang trek balapan dalam kota ini bertujuan untuk menunjukkan Indonesia dan Jakarta pada internasional bahwa Indonesia sudah maju dan membuat masyarakat luar tertarik untuk berkunjung.

Pemprov DKI Jakarta kabarnya harus menyediakan dana hingga Rp 2,4 triliun untuk menyelenggarakan balap mobil listrik tersebut.

Namun, bukan hanya kota penyelenggara pabrikan peserta balapan seperti Audi, BMW dan Mercedes Benz ramai-ramai mundur dari ajang balap tersebut.

Audi memilih fokus di Reli Dakkar 2022 dan Le Mans Daytona Hybrid 2022, sementara BMW tahun depan hanya mengabiskan kontrak dengan Andretti Formula E Team dan pemasok mesin untuk FIA.

Adapun Mercedes Benz mengalihkan biaya ikut Formula E ke pendanaan untuk memproduksi mobil-mobil listrik yang akan dijual umum tahun 2025.

Kondisi itu justru membuat penyelenggaraan Formula E sulit mendapat keuntungan, bahkan mengalami kerugian besar. Mundurnya Mercedes Benz dianggap tidak lagi memberi keuntungan dari segi transfer teknologi dan pemasaran.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Bonus Hari Raya Ojol, Kesejahteraan Bagi Gig Worker

Oleh: Alexander Royce*) Transformasi ekonomi digital Indonesia dalam satu dekade terakhir telah melahirkan jutaanpekerja sektor informal berbasis aplikasi atau gig worker. Di antara mereka, pengemudi ojek online (ojol) menjadi tulang punggung mobilitas dan distribusi barang, terutama di momen-momen krusial seperti Ramadan dan Idulfitri. Tahun ini, kabar mengenai pencairan Bonus Hari Raya (BHR) bagi para pengemudi ojol menjadi angin segar yang tidak hanya berdampak pada kesejahteraan pekerja, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional. Langkah pemerintah memastikan kembali pemberian Bonus Hari Raya bagi pengemuditransportasi daring menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap pekerja sektor informal digital. Kebijakan ini relevan dengan situasi terkini, di mana daya beli masyarakat menjadi salah satu kunci menjaga stabilitas ekonomi menjelang Lebaran 2026. Dengan lebih dari 850 ribupengemudi yang dipastikan menerima bonus tahun ini, dampaknya tidak bisa dipandang sebelahmata. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, memastikan bahwa para pengemudi ojol kembalimendapatkan Bonus Hari...
- Advertisement -

Baca berita yang ini