AS dan Cina Memanas, Rupiah Diprediksi Melemah di Akhir Pekan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Cina kembali memanas. Hal ini akan menjadi salah satu sentimen penekan laju mata uang garuda di akhir pekan, 29 Mei 2020. Kemarin, rupiah ditutup pada posisi Rp 14.715 per dolar AS atau melemah 0,03 persen.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal pun memprediksi laju rupiah akan bergerak di kisaran Rp 14.700 per dolar AS hingga Rp 14.900 per dolar AS.

Ia mengatakan, yang menjadi faktor utama bagi pelemahan bagi rupiah masih berasal dari luar negeri. Para pelaku pasar nampaknya masih waspada karena memburuknya hubungan AS dan Cina.

“Trump kemungkinan akan mengeluarkan sanksi baru dan lebih keras seperti sanksi visa dan perdagangan,” ujarnya Kamis sore, melansir kontan.co.id.

Faisyal juga mengatakan, pelemahan mata uang garuda juga disebabkan oleh maraknya aksi profit taking alias ambil untung dari investor, setelah rupiah sempat menguat pada perdagangan Rabu kemarin.

Selain itu, pelaku pasar juga masih memiliki kekhawatiran terhadap risiko pelambatan ekonomi global. Apalagi beberapa bank sentral dunia seperti Jepang dan Eropa kembali gencar mengeluarkan stimulus-stimulus baru.

Ditambah lagi, muncul risiko no deal Brexit dari Inggris setelah muncul pernyataan bahwa Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tidak akan memperpanjang kesepakatan kedua negara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Flu Singapura Tak Ditemukan di Bantul, Dinkes Tetap Waspadai Gejala yang Muncul

Mata Indonesia, Bantul - Dinkes Kabupaten Bantul menyatakan bahwa hingga akhir April 2024 kemarin, belum terdapat kasus flu Singapura yang teridentifikasi. Namun, Dinkes Bantul tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. "Kami belum menerima laporan terkait kasus flu Singapura di Bantul. Kami berharap tidak ada," ujar Agus Tri Widiyantara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Sabtu 4 Mei 2024.
- Advertisement -

Baca berita yang ini