Akhirnya, Kim Jong-un akan Bertemu Vladimir Putin untuk Pertama Kalinya

Baca Juga

MINEWS, INTERNASIONAL – Pemerintah Rusia secara resmi mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong-un akan melakukan kunjungan kenegaraan ke Moskow untuk bertemu Presiden Vladimir Putih.

Pertemuan kedua kepala negara itu rencananya akan berlangsung pada akhir Mei 2019. Banyak pihak berspekulasi, pertemuan Kim dan Putin bertujuan membahas masalah negosiasi nuklir yang alot antara Korea Utara dengan AS.

Mengutip CNN, Jumat 19 April 2019, Kim dan Putin sebelumnya sama sekali tak pernah bertatap muka secara langsung. Padahal, kedua negara punya catatan sejarah sama-sama beraliansi saat Perang Dingin.

Menurut kantor berita KCNA milik pemerintah Korea Utara, pengumuman pertemuan Kim dan Putin terjadi setelah beberapa jam Kementerian Luar Negeri Korea Utara meminta Menlu AS Mike Pompeo untuk diganti dalam negosiasi lebih lanjut antar kedua negara.

Menurut pemerintah Korea Utara, Pompeo telah melakukan pembiaran atas sejumlah komentar negatif dan ia dituding bermain curang dalam mengatur pertemuan bersama AS.

Korea Utara telah mendesak lebih banyak penghapusan sanksi sebagai ganti denuklirisasi, sementara AS menuntut bukti yang lebih besar bahwa negara itu siap mengurangi persenjataan nuklirnya.

Ketidaksepakatan itu diyakini menjadi alasan utama perundingan Hanoi berakhir cepat dan tanpa hasil. Namun, pertemuan Kim dan Putin tentu akan menjadi sorotan besar bagi AS yang selama ini disebut merupakan lawan abadi Negeri Paman Sam.

Berita Terbaru

MBG 3T: Pemerataan Program Gizi Nasional

Oleh : Andika PratamaPendekatan pemerataan pembangunan tidak dapat hanya diukur dari besarnya investasi yang masuk ke wilayah perkotaan atau dari pesatnya pembangunan infrastruktur di pusat-pusatekonomi. Tolok ukur keberhasilan pembangunan nasional juga terletak pada kemampuan negara menghadirkan layanan dasar secara adil hingga menjangkau masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dalam konteks tersebut, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategis yang menunjukkan komitmen pemerintah untukmemastikan tidak ada warga negara yang tertinggal dalam memperoleh hak atas pemenuhan giziyang layak. Kehadiran skema khusus MBG bagi wilayah 3T merupakan bukti bahwa pemerintahmemahami tantangan geografis Indonesia sekaligus berupaya menghadirkan solusi yang adaptifterhadap kondisi di lapangan.Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional bersama Badan Komunikasi Pemerintah menunjukkankeseriusan dalam merancang mekanisme khusus pelaksanaan MBG di daerah 3T. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menjelaskan bahwa karakteristik wilayah 3T berbeda dengan kawasan perkotaan sehingga membutuhkan skema pelayanan tersendiri. Kondisigeografis yang sulit dijangkau, jumlah penduduk yang relatif sedikit, hingga keterbatasaninfrastruktur menjadi faktor yang menyebabkan model pelayanan konvensional melalui SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi belum sepenuhnya dapat diterapkan secara optimal. Pernyataantersebut mencerminkan bahwa pemerintah tidak sekadar memaksakan satu pola kebijakannasional, melainkan memilih pendekatan yang lebih fleksibel agar manfaat program benar-benardapat dirasakan masyarakat sesuai kebutuhan masing-masing daerah.Langkah pemerintah untuk mengevaluasi berbagai alternatif mekanisme distribusi juga menunjukkan adanya kebijakan yang berbasis pada realitas lapangan. Pemanfaatan kantinsekolah sebagai salah satu opsi pelayanan merupakan bentuk inovasi yang patut diapresiasi. Namun pemerintah juga memahami bahwa tidak seluruh sekolah di wilayah 3T memiliki fasilitastersebut. Karena itu, berbagai alternatif lain masih terus dikaji agar pelaksanaan MBG tetapberjalan efektif tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Program MBG sesungguhnya memiliki dimensi pembangunan yang jauh lebih luas dibandingsekadar penyediaan makanan bergizi. Program ini menjadi investasi jangka panjang dalammenciptakan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, dan mampu bersaing di tingkatglobal. Perbaikan status gizi sejak usia dini akan berkontribusi terhadap penurunan angkastunting, peningkatan kemampuan belajar anak, serta penguatan kualitas pendidikan nasional. Dalam jangka panjang, kualitas sumber daya manusia yang lebih baik akan meningkatkan dayasaing bangsa, termasuk dalam berbagai indikator pendidikan internasional seperti Programme for International Student...
- Advertisement -

Baca berita yang ini