Akhir Pekan, Rupiah kian Terkapar di Hadapan Dolar

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nilai tukar rupiah atas dolar AS ditutup melemah di akhir pekan ini, 13 Maret 2020.

Mengutip data RTI Bussines, rupiah ditutup pada posisi Rp 14.809 atau melemah 1,98 persen.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, pelemahan rupiah disebabkan oleh sejumlah sentimen dari luar negeri.

Pertama, Bank Sentral Eropa (ECB) secara mengejutkan mengumumkan bahwa itu tidak memotong suku bunga.

“Sebaliknya, ECB memperkenalkan langkah-langkah untuk mendukung pinjaman bank dan memperluas program pembelian aset sebesar 120 miliar euro atau sekitar 135,28 miliar dolar AS,” ujar Ibrahim sore ini.

Kedua, Bank Sentral AS atau Federal Reserve AS malah menawarkan suntikan likuiditas besar-besaran ke pasar Keuangan. Ini menjadi dalih dari The Fed untuk mencegah memburuknya perekonomian AS akibat penyebaran penyakit COVID-19.

Sementara dari dalam negeri, kematian akibat virus corona kembali terjadi di Solo, setelah sehari sebelumya 2 orang yang meninggal.

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Penetapan itu dilakukan lantaran jumlah kasus maupun negara yang terjangkit wabah itu meningkat tajam.

Maka, untuk mengantisipasi efek dari penyebaran corona atas ekonomi Indonesia, pemerintah akhirnya merilis stimulus jilid II.

“Stimulus jilid II ini akan lebih berfokus pada sektor produksi terutama sektor manufaktur. Sebab, sejak ditetapkan sebagai pandemi global, sektor tersebut kesulitan untuk mendapatkan barang modal dan bahan baku,” kata Ibrahim.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini