Ada Jokowi dan Sandi, Bandung Bakal Macet Parah

Baca Juga

MINEWS.ID, JAKARTA – Minggu 10 Maret 2019 ini Kota Bandung bakal lebih macet dari biasanya karena Presiden Jokowi bersama Sandiaga Uno ada di kota itu.

Calon presiden petahana Jokowi memulai agendanya sejak pukul 08.00 WIB dengan meninjau proyek Terowongan Air Nanjung, di Jalan Terusan Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.

Dari situ rombongan ke kantor redaksi Harian Pikiran Rakyat. Selanjutnya dijadwalkan menghadiri deklarasi dukungan dari alumni SMA dan perguruan tinggi Jawa Barat Ngahiji di Jalan Dipati Ukur, Monumen Juang.

Selanjutnya dia menghadiri silaturahim tokoh masyarakat dan relawan Balad Jokowi di Villa Istana Bunga, Kabupaten Bandung

Sementara itu, pada saat yang hampir bersamaan Sandiaga Uno dijadwalkan memenuhi empat agenda di Bandung hari ini.

Keempatnya adalah bertemu tokoh se-Jawa Barat, shalat Dzuhur di masjid Trans Studio Mall, dan bertemu Komunitas Yes di Sabuga.

Dengan adanya dua kegiatan besar itu Bandung dipastikan akan semakin macet. Hal itu diakibatkan adanya pergerakan massa pendukung dua kubu calon presiden tersebut.

Berita Terbaru

Negara Membuka Dialog dan Mendengar Aspirasi Mahasiswa

*) Oleh: M. Farhan Akbar Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari terselenggaranya pemilihan umumyang bebas dan adil, tetapi juga dari kemampuan negara membangun komunikasiyang terbuka dengan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki posisistrategis sebagai kelompok intelektual yang kerap menyuarakan kritik, gagasan, sekaligus solusi terhadap berbagai persoalan bangsa. Kehadiran ruang dialog yang setara antara pemerintah dan mahasiswa menjadi indikator penting bahwa demokrasiberjalan secara substantif, bukan sekadar prosedural. Oleh karena itu, komitmenpemerintah untuk terus membuka ruang komunikasi patut dipandang sebagai langkahyang memperkuat kualitas tata kelola pemerintahan sekaligus memperkokohkepercayaan publik.Berbagai capaian pembangunan yang terus diupayakan pemerintah, mulai daripenguatan ketahanan pangan, hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, hingga program pemberdayaanekonomi masyarakat, membutuhkan dukungan situasi yang aman dan kondusif. Karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, akademisi, dan masyarakatmenjadi modal penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan secaraoptimal dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.Lebih lanjut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa setiap aspirasi memilikinilai yang sama, baik berasal dari akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat di daerah terpencil. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak dapatdilepaskan dari partisipasi publik yang inklusif. Negara yang kuat bukanlah negara yang menutup diri terhadap kritik, melainkan negara yang mampu mendengarpersoalan, mengakui kekurangan, serta menjadikan masukan masyarakat sebagaidasar penyempurnaan kebijakan. Pendekatan seperti ini mencerminkankepemimpinan yang adaptif karena menempatkan dialog sebagai instrumen untukmenghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.Selanjutnya, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa menunjukkanadanya perubahan paradigma dalam hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Mahasiswa tidak lagi diposisikan semata sebagai kelompok penekan, tetapi sebagaimitra strategis dalam proses pembangunan nasional. Melalui komunikasi yang terbuka, berbagai kritik dapat diterjemahkan menjadi bahan evaluasi, sedangkanberbagai gagasan dapat diolah menjadi rekomendasi kebijakan yang konstruktif. Pendekatan kolaboratif seperti ini memperkuat legitimasi kebijakan sekaligusmemperkecil potensi polarisasi yang sering muncul akibat minimnya komunikasiantara pemerintah dan publik.Pandangan tersebut diperkuat oleh Direktur Eksekutif Kata Rakyat, Alwan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini