Sepi dan Kian Terlupakan, Begini Nasib Terkini Mall Blok M

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dikenal sebagai pusat nongkrong muda-mudi di tahun 90-an, kini Mall Blok M sepi nyaris tak berpenghuni. Hanya beberapa toko saja yang masih mampu bertahan hingga kini.

Pusat perbelanjaan yang terhubung dengan Terminal Bus Blok M ini masa kontraknya akan habis pada Oktober 2022. Setelah 30 tahun PT Langgeng Ayom Lestari dan Pemprov DKI menjalin kontrak.

Seorang pedagang mengatakan bahwa Mall tersebut mulai sepi di tahun 2014. Dan menjadi semakin sepi lagi ketika pandemi Covid-19 terjadi. Bahkan, toko-toko ternama seperti Robinson dan Ramayana juga keluar dari pusat perbelanjaan tersebut.

Hingga saat ini pihak pengelola kurang memperhatikan kondisi pengunjung yang kian menyusut. Dan tak pernah berusaha membahas solusi guna meningkatkan kembali minat pengunjung. (Zerena Rahayu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini