Investasi Berkelanjutan Butuh Hilirisasi, Kolaborasi, dan Keadilan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sejumlah persiapan menuju pertemuan puncak pemimpin ekonomi dunia yang tergabung ke dalam G20, awal November 2022, di Nusa Dua, Bali. Sebagai bagian Sherpa Group, negara-negara yang tergabung ke grup perdagangan, investasi dan industri turut dalam persiapan itu.

Mereka sudah melampaui pertemuan maraton. Mulai pertemuan pertama dan kedua G20 Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG) di Solo. Di pertemuan ketiga, TIIWG di Nusa Dua, Bali, yang berlangsung sejak 19 hingga 20 September 2022, TIIWG telah mampu menuangkan pernyataan menteri (ministerial statement). Dan memuat komitmen negara anggota G20 terkait enam isu prioritas di bidang perdagangan, investasi, dan perindustrian.

Keenam isu prioritas TIIWG adalah,

  • Pertama, peran sistem perdagangan multilateral untuk akselerasi pencapaian sustainable development goals (SDGs).
  • Kedua, perdagangan digital dan rantai nilai global yang berkelanjutan (sustainable global value chains/GVCs).
  • Ketiga, industrialisasi inklusif yang berkelanjutan melalui industri 4.0.
  • Keempat, respons perdagangan, investasi, dan industri terhadap pandemi.
  • Kelima, arsitektur kesehatan global, dan keenam mendorong investasi berkelanjutan dalam rangka pemulihan ekonomi global.

Khusus pertemuan Trade, Investment, and Industry Ministrial Meeting (TIIMM G20) akan hadir delapan menteri dari negara anggota G20. Yaitu Kanada, Prancis, India, Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Inggris.

Selain itu, hadir juga 12 pejabat setingkat menteri dari negara anggota G20 lainnya. Termasuk Rusia dan Amerika Serikat serta tujuh menteri dari negara undangan, yaitu Kamboja, Spanyol, Fiji, Selandia Baru, Rwanda, Singapura, dan Persatuan Emirat Arab (PEA).

Adapun total delegasi yang hadir dalam rangkaian kegiatan Pertemuan Ketiga TIIWG dan TIIMM G20 sebanyak 268 delegasi, baik yang hadir secara fisik maupun secara virtual. Mereka merupakan perwakilan negara anggota G20, negara undangan, dan organisasi internasional.

Dalam kesempatan pembukaan TIIMM G20 di Nusa Dua, Bali, Kamis 22 September 2022, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya investasi berkelanjutan. Dalam rangka mendorong pembangunan yang lebih inklusif, adil, dan merata.

Bahlil, selaku co-chairman dari TIIMM G20, mengungkapkan adanya berbagai tantangan dalam mewujudkan investasi yang berkelanjutan. Salah satunya, yaitu harus adanya kontribusi investasi terhadap hilirisasi.

Melalui hilirisasi, maka negara-negara berkembang dapat memajukan industrinya melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam. Sama halnya dengan negara maju.

“Penting saya tegaskan bahwa negara berkembang wajib mendapatkan kesempatan menaiki tangga yang sama untuk mencapai puncak seperti negara-negara maju,” ujar Bahlil.

Bahlil menambahkan, investasi yang berkelanjutan juga perlu ramah terhadap kepentingan masyarakat setempat. Kolaborasi antara investor besar dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal perlu mendapat dorongan untuk memastikan investasi berkelanjutan menjadi investasi yang inklusif.

Dia menegaskan, investasi membutuhkan keadilan. Menurut Bahlil, saat ini masih terjadi ketidakadilan arus investasi. Antara negara berkembang dan negara maju di bidang energi hijau. Termasuk di dalamnya harga kredit karbon.

“Saat ini masih terjadi ketimpangan. Hanya 1/5 saja dari investasi energi hijau yang mengalir ke negara berkembang. Selain itu, ke depan perlu adanya kesepakatan aturan pasar karbon yang lebih adil dan berimbang. Antara negara maju dan berkembang,” ujarnya.

Bahlil menerangkan pentingnya dukungan negara G20 untuk mengadopsi kompendium. Ini sebagai referensi kebijakan bagi penyusunan dan impelementasi strategi dalam menarik investasi yang berkelanjutan.

Memanfaatkan momentum Presidensi G20, Bahlil juga mengajak negara-negara G20 untuk bergandengan tangan menyelesaikan permasalahan rantai pasok dunia demi mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama mengurangi kemiskinan dan memerangi kelaparan.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini