Ulang Tahun Kelima, Berikut Perjalanan Karir Red Velvet

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Tepat hari ini, 1 Agustus 2019, girlgroup asal Korea Selatan Red Velvet merayakan hari jadi mereka yang kelima setelah debut pada 2014 lalu. Hastag #5YearsWithRedVelvet sempat menjadi trending di Twitter hari ini.

Diketahui, girlgroup ini terdiri dari 5 orang member yakni, Irene, Seulgi, Wendy, Joy, dan Yeri. Pada 2014 lalu, Red Velvet mengawali karirnya dengan merilis single digital “Happiness” disusul dengan single digital yang kedua “Be Natural” dua bulan kemudian.

Buat Reveluv yang belum tahu banyak tentang girlgroup jebolan SM Entertaiment ini, berikut kilas balik perjalanan Red Velvet yang dirangkum MINEWS buat kalian:

1. Awalnya Beranggotakan 4 Member

SM Entertainment selaku label yang menaungi Red Velvet awalnya hanya mendebutkan empat anggota yaitu: Irene, Seulgi, Wendy, dan Joy. Selanjutnya pada 10 Maret 2015, Red Velvet menambah satu anggota yaitu Yeri. Yeri diketahui sudah direkrut oleh S.M. Entertainment sejak tahun 2011.

2. Seulgi dan Wendy Kerap Mengisi OST Drama Populer Korea

Memiliki suara yang indah, dua member Red Velvet, Seulgi dan Wendy kerap mengisi OST drama Korea. Diantaranya, drama Who Are You: School 2015, Uncontrollably Fond, Hwarang, The Beauty Inside, dan yang terbaru Touch Your Heart. Semuanya adalah drama populer garapan negeri ginseng tersebut.

3. Prestasi Yang Luar Biasa

Diawal debutnya sebagai girlgroup, Red Velvet mendapat respon positif dari berbagai pecinta K-Pop. Dengan single digital “Happiness” yang dirilis, mereka berhasil menduduki peringkat atas berbagai program musik, seperti M! Countdown, Music Bank, Inkigayo, dan lainnya.

Selain itu, tak lama setelah debutnya, Red Velvet juga memenangkan kategori “Penanyi Pendatang Terbaru” dalam penghargaan Soul Music Awards.

4. Merilis Banyak Album

Mini Album Red Velvet bertajuk “Ice Cream Cake” dirilis pada 2015 tak lama setelah Yeri bergabung dalam grup tersebut. Setelah itu, ditahun yang sama mereka juga merilis Full Album pertama mereka yakni, “The Red”.

Pada tahun 2016, mereka mengeluarkan Mini Album yang kedua “The Velvet” dan Mini Album yang ketiga “Russian Roulette”. Dan pada tahun 2017, Red Velvet kembali merilis Mini Album keempat “Rookie”  dan Mini Album kelima “The Red Summer” serta Full Album kedua “Perfect Velvet”.

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini