Soekarno dan Diosdado Macapagal Marah Dikibuli PM Abdul Rahman

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Selain dianggap bermasalah oleh Brunei Darussalam, pembentukan Federasi Malaya yang kemudian menjadi negara Malaysia modern 16 September 1963 juga mengusik Filipina dan Indonesia. Mereka merasa dikibuli saat pembentukan negara tersebut.

Presiden pertama Indonesia, Soekarno menganggap pembentukan Negara Federasi Malaysia atau Malaysia modern adalah proyek neokolonialisme Inggris.

Dia merasa khawatir jika kawasan Semenanjung Malaya dan sekitarnya dijadikan pangkalan militer dunia Barat. Hal itu bisa mengganggu stabilitas Kawasan Asia Tenggara.

Sementara Filipina tidak setuju dengan pembentukan Malaysia modern karena dinilai telah terjadi klaim sepihak soal Sabah yang dimasukkan sebagai negara bagian federasi tersebut.

Filipina menilai Sabah adalah bagian dari Kesultanan Sulu yang disewakan kepada Inggris. Pusat pemerintahan Kesultanan Sulu yaitu Jolo ada di wilayah administrasi Negara Filipina.

Sementara Sabah adalah wilayah pemberian Kesultanan Brunei sebagai hadiah atas keberhasilan bantuan Kesultanan Sulu memberantas pemberontakan pada 1703.

Maka, Filipina langsung meradang ketika Britania Raya tiba-tiba memasukkan Sabah sebagai bagian dari Federasi Malaya atau Malaysia modern.

Jadilah Indonesia dan Filipina sama-sama berhadapan dengan negara yang baru akan didirikan tersebut.

Pada 31 Mei 1963, Presiden Soekarno bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Tuanku Abdul Rahman di Tokyo, Jepang. Lalu dilanjutkan dengan Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri di Manila, Filipina pada 7-11 Juni 1963.

Menlu Indonesia, Malaysia, dan Filipina mencapai kesepakatan soal pembentukan Negera Federasi Malaysia dan dilanjutkan dengan kesepakatan Manila atau Manila Accord yang ditandatangani Presiden Indonesia Sukarno, PM Tunku Abdul Rahman dan Presiden Filipina Diosdado Macapagal. Redalah ketengangan tiga negara itu pada 31 Juli 1963.

Setelah itu, Tim Pencari Fakta PBB pun membantu ketiga negara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun, ketika tim sedang bekerja, PM Tunku Abdul Rahman justru mengumumkan proklamasi Federasi Malaya pada 16 September 1963.

Soekarno dan Diosdado pun berang karena merasa ditipu mentah-mentah. “Tentu saja aku marah. Pemerintah Indonesia telah ditipu dan diperlakukan seperti patung,” ujar Sukarno pada suatu kesempatan.

Setelah itu, Soekarno menggaungkan Kampanye “Ganyang Malaysia” dan awal Tahun 1965 menyatakan Indonesia keluar dari PBB setelah Malaysia diterima menjadi anggota Dewan Keamanan.

Konflik tersebut tidak terselesaikan hingga kini. Bahkan pada 2013, sekitar 200 orang dari Filipina Selatan memerangi pasukan keamanan Malaysia di Sabah karena menilai wilayah itu masih merupakan bagian dari Kesultanan Sulu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Indonesia-Singapura dan Jalan Baru Kemitraan Investasi Strategis

Oleh: Ferry Permahadi)*Hubungan Indonesia dan Singapura selama beberapa dekade telah berkembangmenjadi salah satu kemitraan bilateral paling penting di kawasan Asia Tenggara. Selain karena kedekatan geografis, intensitas kerja sama yang terus meningkat juga menjadikan kedua negara memiliki kepentingan strategis untuk memperkuatkolaborasi jangka panjang.Di tengah dinamika ekonomi global yang dipenuhi ketidakpastian, penguatankemitraan bertujuan untuk membangun ekosistem investasi, perdagangan, dan pembangunan berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, setiap kesepakatan strategis yang dihasilkan memiliki arti penting bagiarah pertumbuhan ekonomi kawasan.Presiden Prabowo menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Singapura memasuki fase baru yang lebih konkret melalui berbagai kesepakatan yang dihasilkan dalam Leaders' Retreat bersama Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong. Menurutnya, pertemuan tersebut menghasilkan puluhan kerja sama strategisyang mencakup berbagai sektor, mulai dari ekonomi, investasi, energi, pertahanan, hingga pengembangan sumber daya manusia.Ia memandang bahwa hubungan kedua negara bukan hanya menjaga komunikasidiplomatik, tetapi diarahkan untuk menghasilkan implementasi nyata yang mampumemperkuat daya saing ekonomi nasional. Berbagai kesepakatan yang dicapaimenunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjawab tantangan global melaluikolaborasi yang saling menguntungkan.Presiden Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia memandang Singapura sebagai mitra strategis yang memiliki peran penting dalam pembangunan ekonominasional. Kepercayaan yang terus terbangun selama bertahun-tahun menjadi modal kuat untuk memperluas kerja sama pada sektor-sektor baru yang memiliki nilaitambah tinggi.Komitmen tersebut menjadi sinyal positif bagi dunia usaha dan investor internasional. Sebab, ketika hubungan antarnegara dibangun di atas kepercayaandan kepastian kerja sama, iklim investasi akan menjadi lebih kondusif sehinggamampu mendorong masuknya modal baru yang mendukung penciptaan lapangankerja.Bagi Indonesia, kerja sama investasi bukan sekadar menghadirkan aliran modal, tetapi juga membuka akses terhadap teknologi, peningkatan kapasitas sumber dayamanusia, serta pengembangan industri bernilai tambah. Sebaliknya, bagi Singapura, Indonesia menawarkan pasar yang besar dan peluang investasi jangka panjang.Pandangan serupa disampaikan Perdana Menteri...
- Advertisement -

Baca berita yang ini