Si Dukun QAnon yang Didakwa Atas Kerusuhan di Gedung Kongres AS

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL Jacob Anthony Chansley, pengikut terkenal teori konspirasi tak berdasar QAnon telah didakwa atas perannya dalam kerusuhan di Gedung Capitol Amerika Serikat. Saat ini, ia sedang berada dalam tahanan atas sejumlah gugatan termasuk tindakan kekerasan.

Jacob yang menyebut dirinya “Si Dukun QAnon”, diduga sebagai pria bertopi bulu dan bertanduk dengan wajah dicat dalam Kongres pada Rabu (6/1) petang waktu setempat. FBI telah meminta bantuan untuk membawanya ke pengadilan.

“Chansley diduga merupakan pria yang terlihat dalam liputan media memasuki gedung dengan mengenakan penutup kepala kulit beruang, tanduk, cat wajah merah, putih, dan biru, celana coklat, dan bertelanjang dada,” kata pengacara federal Washington DC.

Lebih lanjut, kepolisian juga telah menahan seorang pria asal Florida, Adam Johnson yang diyakini telah membawa mimbar Ketua DPR Nancy Pelosi dari ruangan DPR. Ia ditahan atas dakwaan pencurian properti pemerintah dan tindakan kekerasan.

Anggota parlemen dari negara bagian West Virginia, Derrick Evans juga mendapat dakwaan. Ia dituduh mengunggah video mengenai dirinya sendiri saat berada di luar gedung bersama para pendukung Trump, kemudian masuk ke dalam. Derrick ditangkap pada Jumat (8/1) karena dakwaan melakukan tindak kekerasan dan perbuatan meresahkan di wilayah Capitol Hill.

Lebih dari selusin orang telah dijerat dakwaan terkait penyerbuan Gedung Capitol yang merupakan Gedung Kongres AS itu, termasuk pria Alabama yang diduga membawa 11 bom molotov di area kerusuhan.

Rencananya, Presiden Donald Trump akan turun dari jabatannya dalam beberapa hari ke depan. Demokrat di DPR akan mengajukan proses pemakzulan terhadapnya atas tuduhan penghasutan untuk pemberontakan – yang diyakini hanya akan semakin memecah belah negeri.

Reporter : Afif Ardiansyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Satelit Indonesia dan Jalan Panjang Menjaga Kedaulatan Informasi Nasional

Oleh: Abdul Nuhaiman*Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kedaulataninformasi nasional melalui percepatan pembangunan infrastruktur satelit sebagaifondasi transformasi digital Indonesia. Langkah strategis tersebut tidak hanyamemastikan konektivitas menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), tetapi juga memperkuat ketahanan nasional di bidangkomunikasi, ekonomi digital, pendidikan, kesehatan, hingga pertahanan dan keamanan. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi global, penguatan kapasitassatelit nasional menjadi bukti bahwa pemerintah mempersiapkan Indonesia agar mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju sebagai bangsa yang mandiri, berdaulat, dan berdaya saing dalam mengelola ruang digital maupun ruang antariksa. Peluncuran satelit multifungsi SATRIA-1 menjadi salah satu langkah penting dalammemperluas akses internet, khususnya di wilayah terpencil, terluar, dan tertinggal. Satelit tersebut dirancang untuk melayani ribuan titik layanan publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, hingga fasilitas pertahanan dan keamanan. Kehadiran satelit nasional bukan hanya mempersempit kesenjangan digital antarwilayah, tetapi juga memberikan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakatdalam memperoleh layanan pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi digital. Dengansemakin luasnya akses internet, peluang pengembangan usaha mikro, pembelajarandaring, dan pelayanan publik berbasis digital juga semakin meningkat.Di sisi lain, penguasaan satelit tidak cukup hanya dengan memiliki perangkat yang mengorbit di angkasa. Indonesia juga perlu membangun ekosistem industri antariksayang kuat, mulai dari pengembangan sumber daya manusia, riset teknologi, manufaktur komponen, hingga kemampuan mengoperasikan dan memelihara satelitsecara mandiri. Selama ini sebagian besar teknologi satelit masih melibatkan kerjasama dengan perusahaan luar negeri. Kerja sama tersebut memang penting sebagaibagian dari transfer teknologi, namun dalam jangka panjang Indonesia perlumeningkatkan kemampuan nasional agar tidak terus bergantung pada negara lain. Perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri teknologi, dan pemerintah perlumemperkuat kolaborasi agar inovasi di bidang antariksa dapat berkembang secaraberkelanjutan.Selain aspek teknologi, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perlindunganterhadap data nasional. Perkembangan kecerdasan buatan, komputasi awan,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini