Mengenang Kematian Sang Ahli Perang Gerilya Che Guevara

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Che Guevara, merupakan tokoh revolusi Marxist asal Argentina. Namanya sangat dikenal ketika membantu Fidel Castro melakukan pergerakan 26 Juli untuk menggulingkan diktator Kuba, Fulgencio Batista pada tahun 1959.

Peran Che dalam kelompok ini bukan hanya sebagai tenaga medis, melainkan juga berperan sebagai komandan gerilya di Amerika Selatan dalam kelompok militer. Dia menjadi radikal setelah berkeliling seluruh Amerika Latin, dan menyaksikan sendiri kelaparan, kemiskinan, dan penyakit.

Guevara bergabung, dan mereka berusaha menyusup dengan menggunakan kapal penjelajah tua, Granma, dan mendarat di Oriente pada 2 Desember 1956. Namun, kedatangan mereka telah tercium oleh pasukan Batista. Dari 82 orang yang menyusup, hanya 22 orang yang berhasil selamat termasuk Guevara. Saat diserang, Guevara memilih menanggalkan perlengkapan medisnya, dan mengambil kotak amunisi yang kelak mengubah hidupnya.

Dalam keadaan terluka, rombongan yang selamat itu berhasil meraih Sierra Maestra di mana mereka memutuskan menjadi gerilyawan pertama. Pelan-pelan, operasi gerilya yang dilancarkan Castro bersaudara mulai mendapatkan simpati dari rakyat.

Ketika akhirnya Castro meraih kemenangan dan memasuki Havana 8 Januari 1959, Guevara didapuk menjadi komandan Penjara La Cabana. Selama lima bulan, dia mendapat tugas untuk mengawasi pelaksanaan “keadilan revolusioner” terhadap sisa-sisa pasukan Batista, maupun para pengkhianat.

Dilaporkan, ketika menjadi komandan di La Cabana, Guevara mengeksekusi mati antara 55 hingga 105 simpatisan Batista. Setelah itu, Guevara menjadi presiden bank nasional dan menteri industri yang membantu Kuba menjadi negara komunis.

Namun, Pada 1965, Guevara mengundurkan diri dari jabatannya, dan pergi ke Afrika untuk menawarkan pengetahuan dan pengalamannya sebagai gerilyawan di Kongo yang tengah menghadapi Pemberontakan Simba.

Presiden Aljazair Ahmed Ben Bella saat itu berkata, Guevara berpikir Afrika adalah mata rantai terlemah imperialisme, dan punya potensi revolusi yang bagus. Oleh Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser yang berkawan baik dengan Guevara, dia dinasihati agar tidak ikut campur dalam politik di Kongo. Meski mendapat peringatan, Guevara tetap pergi.

Menggunakan nama Ramon Benitez, dia memimpin operasi berbekal dukungan dari Simba. Bersama 12 orang Kuba lainya, Guevara sampai pada 24 April 1965, dan awalnya bergabung dengan pasukan Laurent-Desire Kabila. Namun, dia mengalami kesulitan karena pasukan di bawah pimpinan Kabila kurang disiplin, sehingga memutuskan untuk meninggalkannya.

Saat itu, oposisi mulai melancarkan balasan melalui tentara bayaran yang dipimpin Mike Hoare, dan didukung CIA serta orang Kuba anti-Castro. Guevara pun mengalami kekalahan pada 20 November 1965. Enam bulan berikutnya, di bersembunyi di Dar es Salaam dan Prague, Republik Ceko. Saat itu Prague, dia bertemu mantan Presiden Argentina Juan Peron yang berkata kalau apa yang dilakukan Guevara di Kongo adalah bunuh diri.

Akhirnya, ia tertangkap di Bolivia dan Dihukum Mati 3 November 1966. Guevara diikat dan dibawa ke sebuah sekolah di desa La Higuera malam harinya. Tertembak di betis kanan, dia menolak berbicara dengan penyidik Bolivia. 9 Oktober 1967 dalam usia 39 tahun, Guevara tewas dieksekusi oleh pasukan Bolivia di bawah instruksi Presiden Rene Barrientos.

Namun, seperti apa kehidupan Che terdahulu sebelum terjun menjadi pemberontak di Kuba. Diketahui, Guevara yang lahir pada 14 Juni 1928 di Rosario, Argentina, dan merupakan anak dari pasangan Ernesto Guevara Lynch dan Celia de la Serna y Llosa.

Sejak kecil, Ernestito atau Ernesto Kecil, dibesarkan dengan perspektif akan politik sayap kiri dari keluarganya. Ernesto Senior diketahui merupakan pendukung kaum Republikan saat masa Perang Saudara Spanyol, dan sering mengundang veteran ke rumah.

Dirinta tak hanya ahli perang, namun juga seorang satrawan, dimana ketertarikan dirinya dengan puisi. Bahkan kepintarannya tersebut didapatnya karena ia rajin sekali membaca. Guevara sangat tertarik dengan buku Karl Marx, Albert Camus, Jawaharlal Nehru, Vladimir Lenin, hingga Friedrich Engels.

Beranjak dewasa, Guevara tertarik pada penulis Amerika Latin seperti Horacio Quiroga, Ciro Alegria, Jorge Icaza, maupun Miguel Asturias. Semua ide, konsep, filosofi, maupun definisi dari para penulis yang dianggapnya menarik bakal dicatat dalam buku diarinya.

Pada 1948, Guevara masuk Universitas Buenos Aires untuk belajar kedokteran. Namun, keinginannya mengarungi dunia membuatnya cuti kuliah. Perjalanan pertamanya dimulai pada 1950. Setelah itu bersama seorang temannya mengendarai motor selama Sembilan bulan sejauh 8.000 kilometer menyusuri seluruh jalan di kawasan Amerika Selatan.

Selama petualangannya, dia melihat sendiri kemiskinan, kelaparan, ditambah ketidakmampuan merawat anak karena tak ada biaya. Semua pengalaman tersebut menggerakan hati Guevara untuk “menolong orang-orang tersebut”. Dia lalu menamatkan pendidikan dokternya pada 1953. Namun, dia memilih untuk tidak menolong orang melalui dunia kedokteran. Melainkan masuk ke dalam arena konflik bersenjata.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Renovasi Hunian Layak untuk Papua, Strategi Pemerintah Percepat PemerataanPembangunan

Oleh : Loa Murib Renovasi hunian layak di Papua bukan sekadar program fisik pembangunan rumah, melainkanstrategi besar pemerintah dalam mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkankualitas hidup masyarakat di Tanah Papua. Di tengah berbagai tantangan geografis, sosial, danekonomi, kebijakan perumahan yang terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadifondasi penting untuk memastikan bahwa kesejahteraan tidak hanya terpusat di wilayahperkotaan Indonesia bagian barat, tetapi juga menjangkau wilayah timur secara adil danberkelanjutan. Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Perumahandan Kawasan Permukiman yang digelar di Kantor Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan dukungannya terhadap realisasiprogram Tiga Juta Rumah yang menjadi inisiatif Presiden Prabowo Subianto. Program tersebutdinilai strategis karena menyasar kebutuhan dasar masyarakat, terutama kelompokberpenghasilan rendah, melalui penyediaan hunian terjangkau dan layak huni. Dorongan kepada pemerintah daerah untuk memaksimalkan peluang program tersebut menjadisinyal kuat bahwa pembangunan perumahan tidak dapat berjalan parsial. Tito Karnavianmemandang bahwa kepala daerah memiliki tanggung jawab langsung dalam mengangkat harkatdan martabat masyarakat melalui penyediaan hunian yang layak. Dukungan regulatif pun diperkuat dengan kebijakan pembebasan retribusi Persetujuan Bangunan Gedung serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, yang harusditetapkan melalui peraturan kepala daerah. Langkah ini menunjukkan bahwa percepatanpembangunan bukan hanya soal anggaran, tetapi juga penyederhanaan birokrasi dankeberpihakan kebijakan. Optimalisasi Mal Pelayanan Publik di daerah juga menjadi instrumen penting untuk memangkaswaktu dan biaya perizinan. Dengan proses yang lebih cepat dan transparan, pembangunan rumahbagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat segera direalisasikan tanpa terhambat proseduradministratif yang berlarut-larut. Pendekatan kolaboratif antara pusat dan daerah inilah yang menjadi kunci agar program nasional benar-benar berdampak nyata di lapangan. Di Papua, respons terhadap kebijakan tersebut tampak progresif. Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi siap menggenjot program bantuanperumahan melalui berbagai skema, mulai dari rumah subsidi, renovasi rumah tidak layak huni, hingga pembangunan rumah susun. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah daerahtidak sekadar menjadi pelaksana, tetapi juga mitra aktif dalam merancang solusi yang sesuaidengan karakteristik sosial budaya masyarakat Papua. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan kebutuhan perumahan di Papua masih cukuptinggi. Kondisi ini tidak terlepas dari realitas sosial di mana satu rumah kerap dihuni olehbeberapa generasi sekaligus. Dalam konteks budaya Papua yang menjunjung tinggi ikatankekerabatan, pola hunian multigenerasi menjadi hal lumrah. Namun di sisi lain, keterbatasanruang dan kualitas bangunan yang belum memadai dapat berdampak pada kesehatan, kenyamanan, serta produktivitas keluarga. Karena itu, target pembangunan dan renovasi rumah di Papua pada 2026 menjadi langkahstrategis. Direncanakan sekitar 14 ribu unit rumah akan dibangun melalui berbagai skemabantuan, dengan tahap awal mencakup sekitar 2.100...
- Advertisement -

Baca berita yang ini