MATA INDONESIA, JAKARTA – Banyak yang belum tahu mengenai kisah seorang biarawan asal Italia yang melakukan perubahan besar di Florance. Ketika ia memimpin terjadi reformasi moral yang mengagumkan. Atas kejujuran dan ketulusannya, ia harus mengambil risiko dimusuhi orang banyak hingga dibunuh.
Giralamo Savonarola adalah seorang biarawan sekaligus penceramah yang anti dengan kehidupan duniawi. Ia membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan sex, judi, kesembronoan, dan kemewahan yang berlebihan. Tidak hanya itu, ia juga sempat mengecam karya seniman ternama Boccaccio, seperti karya lukisan telanjang, seluruh gambar humanisti pada zaman renaisance Italia, dan gambar-gambar dewa pagan atau penganut kepercayaan paganisme.
Pada masa kepemimpinannya tahun 1497 yang juga dikenal dengan “The Bonfire of the Vanities” atau api unggun kesombongan merupakan salah satu kebijakannya yang paling ekstem, yaitu membakar semua benda yang bebau unsur duniawi, seperti patung-patung telanjang, cermin, kosmetik, topeng karnaval, kartu judi, buku yang tidak senonoh, dan gamba-gambar atau lukisan yang sengaja dibakar di jalan.
Aksinya tersebut sontak membuat sebagian besar orang tidak menyukainya, sebab kesenangan atau sesuatu yang membuat mereka senang dibakar begitu saja oleh Savonarola. Musuh terkuatnya saat itu adalah seorang paus Borgia bernama Alexander VI.
Paus tersebut merasa dirugikan oleh Savonarola karena ia mencoba menggembor-gemborkan kemewahan gereja dan para pemimpinnya atas kasus korupsi yang mereka lakukan. Paus dan para pemimpin gereja berhasil mengucilkannya sehingga pada tahun 1498 biara Santo Markus diserang. Dalam penyerangan itu Savonarola berhasil ditangkap bersama dengan dua pengikut setianya, Fra Dominico dan Fra Salvestro.
Ketika ketiganya sudah ditangkap, mereka harus merasakan siksaan kejam sebelum nantinya akan diserahkan kepada dua komisioner paus yang datang dari Roma. Lalu dengan santainya paus itu mengatakan kepada penduduk Florance nantinya akan ada acara api unggun yang besar, bukan lain adalah proses pembakaran Savonarola dan kedua pengikutya.
Para komisioner itu menginginkan proses eksekusi ketiganya disaksikan banyak orang. Oleh karenanya pada tanggal 23 Mei 1948, semua penduduk Florance dikumpulkan di Piazza Della Signoria. Di sana papan kayu dan tali telah disiapkan untuk menggantung ketiganya.
Beberapa orang yang membela Savonarola tidak tega dan tak tahan melihat ketiganya digantung tanpa pakaian yang kemudian dibakar menjadi abu. Meski begitu, teriakan mereka tidak digubris sama sekali oleh para komisioner.
Proses pembakaran pun tiba, kedua pengikutnya digantung lebih dahulu, teriakan dan tangisan para pembelanya tidak bisa terbendungkan lagi. Kemudian disusul dengan digantungnya Savonarola.
Ketiganya pun dibakar dengan api yang berkobar tinggi, tidak ada seorang pun yang mampu menolong sang biarawan dan dua pengikutnya yang jujur tersebut. Akhirnya Savonarola meninggal diusianya 45 tahun, kemudian abu ketiganya dibuang ke sungai Arno. (Anita Rahim)