Djajadi Djaja, dari Distributor Rokok Ciptakan Indomie hingga Direbut Salim Grup

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – “Indomieee…. Selerakuuuu…”, demikian sepenggal lirik lagu dari iklan televisi tentang Indomie. Produk mie instan tersebut kini diproduksi oleh Grup Salim melalui PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan telah dikenal hampir seluruh penjuru dunia.

Tapi sebenarnya Indomie bukanlah produk asli buatan Grup Salim. Awal kemunculan Indomie diprakarsai oleh 4 orang Cina asal Medan, lewat perusahaan Sanmaru Food Manufacturing Co Ltd yang didirikan pada April 1970. Mereka adalah Djajadi Djaja Chow Ming Hua, Wahyu Tjuandi, Ulong Senjaya, dan Pandi Kusuma.

Selanjutnya produk Indomie, singkatan dari ‘Indonesia Mie’, baru lahir pada 1972. Produk pertama yang dihasilkan saat itu adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam.

Meski demikian, Sanmaru Food Manufacturing bukanlah satu-satunya lini bisnis dari empat serangkai ini. Kelompok usaha asal tanah Batak tersebut mulanya membuat firma yang bernama Jangkar Jati Group di tahun 1954. Firma ini bergerak di bidang penyaluran barang.

“Saat itu sejumlah anak muda lulusan SMA di Medan bersepakat mendirikan perusahaan kecil yang diberi nama Firma Djangkar Djati (belakangan namanya diganti Wicaksana Overseas International),” demikian dijelaskan dalam buku Kontribusi Dunia Bisnis Menyambut Lima Puluh Tahun Indonesia Merdeka (1995).

Firma ini lantas diberikan kepercayaan oleh British American Tobacco (BAT) sebagai distributor rokok. Begitulah bisnis Djajadi dan kawan-kawan, sebelum Indomie mulai diproduksi pada 1972.

Sejak tahun 1973, usaha distribusi milik PT Wicaksana Overseas International lantas dilebarkan ke beberapa jenis produk antara lain makanan, minuman, susu bubuk hingga mie instan Indomie.

Produk mie instan buatan Djajadi dkk pun kian dikenal setelah muncul varian baru Indomie Kari Ayam ada 1982 dan Indomie Mie Goreng pada 1983.

Namun bisnis indomie mulai terganggu dengan kemunculan produk serupa yang diberi nama sarimi, singkatan dari ‘Inti sari Mie’, besutan yang didirikan oleh Sudono Salim alias Liem Sioe Liong pada akhir tahun 1970-an.

Kehadiran Sarimi dilatarbelakangi oleh kelangkaan beras di tanah air. “Salim Group memasuki bisnis mi dengan maksud memasok mi bagi prajurit dan pegawai negeri sehingga akan ada lebih banyak beras bagi masyarakat,” tulis Richard dan Nancy dalam dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto.

Sudono Salim lantas berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksi sarimi. Ia memesan 20 lini produksi dari Jepang, di mana setiap lini bisa memproduksi 100 juta bungkus mi instan per tahun. Namun, membaiknya stok beras berkat pestisida dan pupuk membuat produksi mie menjadi terlalu banyak.

Tak ingin produknya mubazir, Liem kemudian merayu Djajadi dengan harapan Indomie yang biasanya memasok tepung dari Bogasari mau bermitra dan memakai sarana produksi milik Liem.

Awalnya Djajadi enggan. Namun belakangan, ia merasa tak punya pilihan lagi setelah Liem berani menginvestasikan 10 juta dolar AS untuk memasarkan merek barunya dengan harga di bawah Indomie. Hasilnya, dalam setahun Sarimi menguasai 40 persen pasar.

Ditambah lagi, Sudono Salim adalah orang dekat Soeharto sejak presiden ke-2 itu masih berpangkat kolonel. Liem juga punya bank yang cukup kuat di Indonesia, bernama Bank Central Asia. Maka tak mudah untuk menghadapi Grup Salim di masa itu.

Akhirnya Djajadi menyerah dan usaha patungan pun diadakan dibawah bendera PT Indofood Interna pada 1984. Sosok yang menjadi CEO masih terhitung orang dekat Djajadi, Hendy Rusli. Pembagian sahamnya, Liem memegang 42,5 persen dan sisanya sebesar 57,5 persen dikuasai Djajadi.

Merek-merek mie instan terkenal akhirnya dikuasai Liem dalam kurun waktu kurang dari dua dekade. Produk-produk mie instan yang dimiliki Salim Group tak hanya menyasar pasar dalam negeri, tapi juga luar negeri. Indofood punya pabrik di benua Afrika dan Eropa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Upaya Bersama Diperlukan untuk Jaga Situasi Kondusif Saat Idul Fitri

Oleh: Hafidz Ramadhan Pratama Perayaan Hari Raya Idul Fitri yang selalu identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, dinamika sosial, serta potensi kerawanan keamanan, kebutuhan akan sinergi lintas sektor menjadisemakin mendesak untuk diwujudkan secara konkret. Stabilitas keamanan dan ketertibanmasyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan jugamemerlukan dukungan aktif dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga peran strategismedia sebagai penyampai informasi yang membentuk persepsi publik. Dalam konteks ini, menjaga suasana kondusif bukan sekadar upaya teknis, tetapi juga merupakan bagian darikomitmen kolektif dalam merawat persatuan di tengah keberagaman. Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasiantara kepolisian dan media melalui momentum buka puasa bersama insan pers yang tergabungdalam Pokja Polda Jatim. Kegiatan yang turut dihadiri Wakapolda Jatim Brigjen Pasma Royce serta jajaran pejabat utama tersebut menjadi simbol bahwa komunikasi yang terbuka dansinergitas yang solid merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas daerah, khususnya saatada agenda nasional dan Idul Fitri. Dalam pandangannya, insan pers memiliki posisi strategissebagai mitra kepolisian dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang kepadamasyarakat, sehingga mampu mencegah berkembangnya informasi yang menyesatkan. Irjen Nanang Avianto juga melihat bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai penyampaiinformasi semata, tetapi juga berperan sebagai penyejuk di tengah dinamika sosial yang berkembang. Dalam situasi yang rawan terhadap provokasi dan penyebaran informasi yang tidakterverifikasi, media diharapkan mampu menghadirkan pemberitaan yang edukatif sertamembangun opini publik yang konstruktif. Dengan demikian, masyarakat tidak mudahterpengaruh oleh isu-isu yang dapat memicu keresahan atau konflik. Ia menekankan bahwaketerbukaan informasi publik merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mewujudkantransparansi dan akuntabilitas, yang pada akhirnya akan memperkuat kepercayaan masyarakatterhadap institusi negara. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Maluku melalui Wakil Gubernur Abdullah Vanath turutmengingatkan pentingnya menjaga harmoni dan memperkuat toleransi antarumat beragama, terutama karena perayaan Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi berlangsung dalam waktu yang berdekatan. Abdullah Vanath menilai bahwa masyarakat Maluku memiliki pengalaman panjangdalam menjaga kebersamaan, sehingga diharapkan mampu mempertahankan kondisi yang amandan damai. Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini telah menunjukkan kedewasaan dalamkehidupan sosial, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang berupaya memecahbelah persatuan. Abdullah Vanath juga mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu harus dijadikan pelajaran agar konflik serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, tidak ada alasan bagi masyarakat untukkembali pada situasi yang pernah menimbulkan perpecahan. Justru, momentum perayaankeagamaan harus dimanfaatkan untuk memperkuat rasa persaudaraan dan saling menghormati. Dalam konteks ini, toleransi bukan hanya menjadi konsep normatif, tetapi harus diwujudkandalam sikap nyata, seperti menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing umat beragama. Langkah konkret juga ditunjukkan melalui koordinasi yang dilakukan Pemerintah ProvinsiMaluku dengan forum komunikasi pimpinan daerah, tokoh agama, serta aparat keamanan. Sinergi ini bertujuan memastikan bahwa seluruh potensi gangguan dapat diantisipasi sejak dini, sehingga perayaan hari besar keagamaan dapat berlangsung dengan aman dan lancar. Pendekatankolaboratif ini menunjukkan bahwa stabilitas tidak dapat dicapai secara parsial, melainkanmelalui kerja sama yang terintegrasi. Hal senada juga disampaikan Kapolda Nusa Tenggara Barat Irjen Pol Edy Murbowo S.I.K. M.Si. yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan danketertiban wilayah saat perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Dalam keterangannya, Irjen Edy Murbowo menekankan pentingnya menjagakebersamaan dan memperkuat nilai-nilai toleransi sebagai fondasi utama dalam menciptakanstabilitas keamanan. Ia menilai bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hiduprukun, melainkan kekuatan yang dapat memperkokoh persatuan. Irjen Edy Murbowo juga melihat bahwa momentum perayaan dua hari besar keagamaan yang berdekatan dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antarumat beragama. Iamengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga lingkungan masing-masing agar tetapaman dan kondusif, sehingga seluruh rangkaian perayaan dapat berjalan dengan tertib dan penuhkedamaian. Seruan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keamanan bukan hanya tanggungjawab aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama seluruh warga. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah telah menunjukkan berbagai capaian signifikan dalammenjaga stabilitas nasional, mulai dari keberhasilan mengendalikan inflasi terutama saat haribesar keagamaan, peningkatan efektivitas pengamanan arus mudik melalui koordinasi lintasinstansi, hingga penguatan layanan publik berbasis digital yang semakin memudahkanmasyarakat dalam mengakses informasi dan layanan. Selain itu, upaya memperkuat moderasiberagama serta pendekatan humanis yang dilakukan aparat keamanan juga berkontribusi dalammenciptakan suasana yang lebih kondusif di berbagai daerah, sehingga kepercayaan publikterhadap pemerintah terus meningkat. Dengan melihat berbagai upaya yang telah dilakukan oleh aparat keamanan, pemerintah daerah, serta dukungan masyarakat, dapat disimpulkan bahwa menjaga situasi kondusif saat Idul Fitrimembutuhkan komitmen bersama yang berkelanjutan. Sinergi antara media, pemerintah, danmasyarakat harus terus diperkuat agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa diajak untuk terus menjaga persatuan, meningkatkantoleransi, serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan damai, sehinggamomentum Idul Fitri benar-benar menjadi ajang mempererat kebersamaan dan memperkuatharmoni sosial di Indonesia. *) Peneliti Keamanan Dalam Negeri dan Komunikasi Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini