Awal Mula Lotre, Cara Negara Mencari Dana Tambahan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bermain lotre merupakan sebuah kegiatan untuk memenangkan sesuatu, biasanya berupa uang atau hadiah, dengan cara diundi.

Nilai total hadiah biasanya adalah jumlah yang tersisa setelah pengeluaran, termasuk keuntungan bagi promotor, biaya promosi, atau pajak lain. Namun di beberapa lotre, nilai hadiah sudah ditentukan sebelumnya dan keuntungan bagi promotor bergantung pada jumlah tiket yang terjual.

Lotre memiliki daya tarik tersendiri sebab pemainnya menjadikan lotre sebagai alat untuk mengumpulkan uang. Bahkan di lebih dari 100 negara, beberapa lotre besar dioperasikan oleh pemerintah.

Lotre pertama kali muncul di Eropa pada abad ke-15 di Belanda. Saat itu, kota-kota di Negeri Kincir Angin itu berusaha mengumpulkan uang untuk memperkuat pertahanan dan membantu masyarakatnya yang miskin.

Di Prancis, Raja Francis I mengizinkan pembentukan lotre untuk keuntungan pribadi di beberapa kota antara tahun 1520 dan 1539. Meski begitu, lotre Eropa pertama yang memberikan hadiah berupa uang adalah ventura, diadakan sejak tahun 1476 di Italia dibawah naungan penguasa d”Este.

Usaha pemberian hadiah berupa uang terbilang cukup sukses terlepas mendapat penolakan dari Gereja Katolik Roma. Saat itu, praktik lotre dengan cepat menyebar ke kota-kota lainnya di Italia.

Ketika bangsa Italia bersatu, mereka membuat lotre nasional pada tahun 1863. Kegiatan yang satu ini digelar secara mingguan dengan tujuan memberikan pendapatan bagi negara. Lotre Nasional Italia dianggap sebagai cikal bakal dari permainan perjudian modern seperti bingo dan keno.

Sama seperti negara lainnya, lotre di Inggris pun memiliki sejarah yang menarik. Menurut Telegraph, 70 persen orang dewasa di Inggris bermain lotre secara rutin.

Sebuah surat yang ditulis oleh Ratu Elizabeth I lebih dari 450 tahun yang lalu menandai awal mula lotre di Inggris. Setelah diberi tanda tangan sang ratu, surat tersebut dikirim kepada Sir John Spencer.

Saat itu, Ratu Elizabeth I mengintruksikan Spencer untuk menjual tiket lotre. Sebanyak 400.000 tiket pun disediakan, masing-masing seharga 10 shilling. Dengan begitu, Ratu mengharapkan akan menerima keuntungan bersih sebesar £ 100.000.

Dengan uang tersebut, rencananya mereka akan memberikan hampir 30.000 hadiah dengan nilai total sekitar £ 55.000. Pemenang pertama dalam permainan tersebut akan menerima hadiah senilai £ 5.000 (saat ini senilai dengan £ 100.000).

Hadiah itu diberikan dalam berbagai bentuk. £ 3.000 diberikan dalam bentuk uang tunai. Sedangkan, £ 700 diberikan dalam bentuk emas dan perak. Sisanya akan diberikan dalam bentuk permadani berkualitas tinggi.

Sedang untuk pemenang kedua akan diberi hadiah £ 3.500 (saat ini senilai £ 70.000). Hadiah tersebut pun diberikan dalam berbagai bentuk seperti uang tunai sebesar £ 200.000, piring senilai £ 600, dan permadani.

Semua orang yang ada di Inggris saat itu dibujuk untuk mengambil bagian dalam lotre, tak terkecuali orang asing. Ketika memenangi hadiah lotre, mereka hanya perlu membayar setengah bea ekspornya saja.

Insentif cerdik lainnya ditawarkan seperti memberi kebebasan penangkapan selama tujuh hari bagi pejabat yang membeli tiket, meskipun pejabat tersebut sedang dituduh melakukan kejahatan besar seperti pembunuhan, pengkhianatan, atau pembajakan yang tidak memenuhi syarat.

Tiket-tiket lotre tersebar di seluruh penjuru Inggris mulai dari London, York, Norwich, Exeter, Oxford, hingga Waterford. Para pejabat daerah pun diperintah untuk mendirikan Dewan Kolektor. Pemerintah pun berjanji akan memberikan imbalan untuk setiap pound yang dikumpulkan dari hasil penjualan tiket lotre. Hal ini memperjelas jika para pejabat pemerintah saat itu memiliki tugas tambahan yakni menjual tiket.

Lotre pertama Inggris dimaksudkan untuk tujuan yang baik. Saat itu, Inggris membutuhkan dukungan keuangan guna memperluas pasar ekspor ke seluruh dunia. Selain itu, lotre digunakan juga untuk membangun kapal dan memperbaiki pelabuhan. Ratu menulis jika dana yang terkumpul akan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat untuk masyarakat.

Meski begitu, banyak yang memfitnah jika uang hasil lotre dipakai Ratu untuk keperluan pribadinya saja. Ia pun menulis surat ancaman untuk menangkap dan mengadili siapa pun yang menyebarkan rumor tersebut.

Beberapa masalah pada lotre pun muncul di Inggris pada abad ke-17 dan ke-18. Pada masa itu, lotre merupakan satu-satunya bentuk perjudian terorganisir dan tersedia untuk semua kalangan. Mereka secara terus-menerus disuguhi oleh promosi lotre.

Para kontraktor pun sering kali berhasil membeli tiket di bawah harga standar. Bahkan, masyarakat Irlandia sebagai negara perjudian, mampu membeli tiket senilai kurang dari £ 500.

Kecurangan tersebut membuat negara tidak mendapatkan keuntungan. Selain itu, lotre bisa mendorong perjudian massal yang curang. Pelanggaran itu muncul dari pernyataan-pernyataan para pemenang lotre.

Meski begitu, lotre telah berhasil mendanai beberapa proyek di Inggris seperti pembangunan British Museum, perbaikan jembatan, pengadaan senjata untuk pertahanan Philadelphia, serta pembangunan kembali Faneuil Hall di Boston.

Reporter: Ratna Utami

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemerintah Optimalkan Sekolah Rakyat untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Oleh: Yoga Pradana SantosoPemerintah terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasionalmelalui percepatan dan optimalisasi program Sekolah Rakyat yang kini menunjukkan progressignifikan di berbagai daerah, sekaligus menjadi bukti bahwa pemerataan akses pendidikan tidaklagi sebatas wacana, melainkan telah dijalankan secara konkret dan terukur sebagai bagian dariagenda pembangunan sumber daya manusia. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah jugamencatat berbagai keberhasilan penting, mulai dari percepatan pembangunan infrastrukturpendidikan, peningkatan akses belajar di wilayah tertinggal, hingga penguatan kolaborasi lintaskementerian yang berdampak langsung pada masyarakat, sehingga kehadiran Sekolah Rakyat menjadi simbol nyata investasi jangka panjang negara dalam menciptakan generasi yang lebihberkualitas dan berdaya saing.Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari mengungkapkan bahwa pembangunan SekolahRakyat tahap kedua terus berjalan dengan progres yang menggembirakan meskipun dihadapkanpada sejumlah tantangan di lapangan, terutama terkait kesiapan lahan dan akses menuju lokasipembangunan, sementara peran Direktur Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PekerjaanUmum Bisma Staniarto dinilai sangat krusial dalam menjaga ritme pembangunan agar tetapsesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah. Ia menilai koordinasi teknis yang dilakukan secara konsisten menjadi faktor kunci dalam memastikan setiap hambatan dapatdiatasi secara terukur sehingga proyek tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dari pusathingga daerah.Lebih lanjut, pembangunan Sekolah Rakyat tahap kedua tidak hanya berfokus pada penyelesaianfisik bangunan, tetapi juga memastikan kesiapan operasional agar sekolah dapat langsungdigunakan pada tahun ajaran baru 2026/2027, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan olehmasyarakat. Berdasarkan data terbaru, dari total 104 lokasi pembangunan, sebanyak 101 lokasitelah memasuki tahap konstruksi dan seluruhnya ditargetkan rampung pada 20 Juni 2026, sebuahcapaian yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan sektor pendidikan sebagaiprioritas utama pembangunan nasional.Dalam upaya memastikan target tersebut tercapai, Muhammad Qodari menegaskan bahwaKantor Staf Presiden bersama Ditjen Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum terusmelakukan langkah konkret melalui rapat koordinasi intensif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk BUMN karya dan penyedia jasa konstruksi, sehingga setiap persoalan yang muncul, baik terkait teknis, logistik, maupun kesiapan lahan, dapat dipetakan secara komprehensif danditangani dengan solusi yang jelas dan terukur.Koordinasi tersebut kemudian diperluas dengan melibatkan Kementerian Sosial, KementerianDalam Negeri, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan, serta Zeni TNI Angkatan Darat, yang dinilai mampu mempercepat penyelesaian berbagai hambatan strategis di lapangan, termasukpembangunan akses jalan dan penuntasan persoalan lahan di sejumlah wilayah, di mana sinergilintas sektor ini menjadi kunci dalam mempercepat realisasi program secara menyeluruh danmemastikan tidak ada kendala yang berlarut-larut.Hasil dari upaya percepatan tersebut mulai terlihat di sejumlah wilayah dengan progrespembangunan yang cukup signifikan, seperti di Kalimantan Selatan yang mencapai 30,85 persen, Sulawesi Selatan sebesar 30,22 persen, serta Jawa Barat sebesar 28,07 persen, meskipunpemerintah tetap memberikan perhatian khusus pada beberapa lokasi dengan progres yang masihrendah melalui intervensi yang lebih intensif agar target penyelesaian secara keseluruhan tidakterganggu.Program Sekolah Rakyat sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk memperluas aksespendidikan bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang terdampak bencana maupun daerahdengan keterbatasan infrastruktur pendidikan, sehingga anak-anak dari keluarga prasejahteratetap dapat memperoleh pendidikan formal yang layak. Program ini dirancang sebagai investasijangka panjang dengan target penyelesaian yang terukur agar dapat segera dimanfaatkan, sekaligus menjadi bagian dari upaya negara dalam menjamin hak pendidikan bagi seluruh wargatanpa terkecuali.Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah juga mempercepat penambahanprogram Sekolah Rakyat yang ditargetkan mulai beroperasi pada April 2026, di...
- Advertisement -

Baca berita yang ini