Alcibiades, Sahabat Socrates yang Manipulatif dan Terbunuh karena Selingkuh

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tersebutlah seorang politisi Athena bernama Alcibiades. Ia seorang yang brilian dan menawan.

Alcibiades adalah murid dan teman Socrates serta salah satu ahli strategi terbaik untuk mengarungi lautan pada abad ke-5 SM. Namanya cukup terkenal saat itu dan banyak pengagumnya. 

Tetapi di balik sosoknya yang brilian, ia memiliki sisi negatif yaitu kebiasaan yang ceroboh. Alcobiades mencintai kemewahan yang berlimpah dan minuman keras. Ia juga suka mengunjungi rumah bordil. Alcobiades terkenal sebagai sosok manipulator yang pernah menipu Raja Sparta dan punya kecenderungan untuk berpindah pihak selama Perang Peloponnesia.

Lahir di Athena sekitar 450 SM, Alcibiades adalah putra Clinias dan Dinomache. Kedua orang tuanya berasal dari keluarga Athena terkemuka. Ibunya merupakan keturunan seorang bangsawan kuno, Alkmeonidai. Ayahnya adalah seorang politikus dan tentara kaya yang tewas dalam pertempuran Coronea ketika Alcibiades masih sangat muda. Setelah kematian ayahnya, dia dikirim dan dibesarkan oleh kerabat dekat ayahnya, negarawan terkemuka Athena, Pericles.

Setelah tumbuh dan besar oleh Pericles, Alcibiades menjadi populer karena kedudukan dan ketampanannya. Banyak orang yang memanfaatkannya dan menjadikannya sahabat dengan harapan dapat meningkatkan diri mereka melalui potensi karir politiknya. Namun di saat yang sama, Alciabiades pun sering memanfaatkan orang lain dengan berbagai diplomasinya. Ada satu pihak yang melihat dan mengakui potensinya yang besar, ia adalah seorang filsuf terkenal bernama Socrates.

Socrates adalah guru filsafat terkenal. Cara ia mempelajari ilmu tentang kebenaran dan mengajak murid-muridnya untuk mempertanyakan segala sesuatu di sekitar mereka. Alcibiades menyadari bahwa Socrates sosok mentor yang tepat untuk membantunya  meningkatkan kualitas diri. Ia dengan mudah menjadi salah satu murid Socrates yang paling berbakat dan keduanya menjadi sangat dekat.

Alcibiades dan gurunya Socrates
Alcibiades dan gurunya Socrates

Namun selama menjalin persahabatan dengan Socrates, Alcibiades sadar bahwa ia tidak mampu memanfaatkannya. Hubungan mereka sangat tulus dan penuh keterbukaan. Banyak sejarawan yang berspekulasi bahwa Alcibiades dan Socrates memiliki hubungan yang lebih dari pertemanan. Mereka punya hubungan sejenis, sesuatu yang lazim saat itu. Tetapi hal ini masih belum bisa terbukti sepenuhnya.

Sebagai seorang politisi, Alcibiades terkenal karena kemampuannya untuk berbicara sesuai dengan yang ingin didengar orang. Keahliannya dalam menyesuaikan tingkah laku dan karakternya dengan budaya setempat membuatnya tidak luput dari saingan-saingan politik yang lain.

Ia pernah melarikan diri ke Sparta dan memohon untuk mendapat tempat berlindung. Sebagai gantinya, ia akan memberi Sparta saran dan cara untuk mengalahkan Athena, bangsanya sendiri. Ia bergabung dengan gaya hidup tentara Sparta dengan makan dan tidur seadanya. Di sisi lain, kemampuannya dalam beradaptasi juga ia buktikan saat di Persia dan berpesta di Thrace yang megah. Ia menghabiskan banyak minuman keras hingga bermain kuda.

Saat ia di Sparta, Alcibiades ketahuan berselingkuh dengan istri dari Raja Sparta saat ia tengah berperang ke Athena. Istrinya yang bernama Timaea itu hamil dan melahirkan anak Alcibiades yang bernama Leotychides. Mengetahui hal ini, Raja Sparta sangat murka dan ingin membunuh Alcibiades.

Selanjutnya, saat angkatan laut Athena membutuhkan dana untuk bersaing dengan Sparta yang mendapat dukungan Persia, Alcibiades meninggalkan angkatan laut di bawah Antiokhus. Ia malah sibuk mencari dana. Musuh Alcibiades menjebaknya dengan mengetahui kebiasaan yang Alcibiades lakukan. Musuh-musuhnya menuduh Alcibiades meninggalkan tentara agar dia bisa pergi minum dan mengunjungi rumah bordil.

Selama Alcibiades berkelana di Thrace, Sparta menguasai Athena dan peristiwa ini menjadi pertanda akhir peperangan. Raja Spartan yang merayakan kemenangan, menginginkan Alcibiades mati dan mengirim seorang pembunuh bayaran. Alcibiades melarikan diri ke Persia, berharap mendapatkan bantuan untuk Athena dari Raja Persia secara langsung.

Alcibiades tinggal di sebuah desa kecil dengan kekasihnya Timandra, sambil menunggu keputusan raja di Frigia. Malam itu, sang pembunuh berhasil menemukannya dan membakar rumahnya saat dia tertidur.

Alcibiades menjalani hidup penuh rintangan akibat keahliannya yang seringkali ia salah gunakan. Dia memiliki kemampuan alami untuk berteman dan berdiplomasi. Itu membuatnya mudah untuk ingkar janji dan mempengaruhi orang lain untuk kepentingan sendiri. Ia juga seekor bunglon yang dapat mengubah kepribadian dan sikapnya untuk memikat orang-orang di sekitarnya.

Penulis: Keshatita

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pemerintah Inisiasi AMN Manado Sebagai Bentuk Keseriusan Pada Sektor Pendidikan

Pemerintah Republik Indonesia (RI) menginisiasi Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Manado sebagai bentuk keseriusan dalam memperhatikan sektor pendidikan di Tanah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini