PPKM Level 4, Kawasan Puncak Bogor Macet Dipadati Wisatawan

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 masih ditetapkan oleh pemerintah hingga besok, Senin 16 Agustus 2021. Namun, kawasan Puncak, Bogor sudah dipadati oleh wisatawan pada Minggu 15 Agustus 2021.

Kemacetan pun terjadi di jalur menuju kawasan tersebut. Polisi kemudian memberlakukan sistem satu arah untuk mengurai kemacetan. “Waktunya situasional,” kata Kepala Satlantas Polres Bogor, Ajun Komisaris Dicky Pranata. Ahad, 15 Agustus 2021.

Kepadatan seperti ini pada masa PPKM sebelumnya jarang terjadi. Penyekatan yang ketat menuju kawasan Puncak, menyebabkan masyarakat banyak mengurungkan niatnya ke Puncak.

Namun pada masa perpanjangan PPKM Level 4, pemerintah memberi kelonggaran dengan meniadakan penyekatan. Momen ini dimanfaatkan para pelancong untuk mengunjungi kawasan Puncak.

Kepadatan pun terjadi di jalan tol menuju arah Gadog. Salah seorang wisatawan Firman Wahyudi (38) mengatakan bahwa ia dan keluarganya sengaja datang untuk berlibur ke Puncak karena sudah lama tidak kesana.

“Saya pikir tidak akan macet, namun ternyata padat sekali di Puncak, sampai diberlakukan satu arah,” ujarnya.

Dirinya mengatakan sempat terjebak di pintu keluar tol Jagorawi.  Namun, tetapi berusaha lewat dengan mencari jalan tikus agar bisa sampai puncak.

Dirinya memang sengaja datang ke kawasan Puncak ingin mengajak keluarganya untuk main karena sudah lama tidak liburan. “Tapi ternyata macet sudah padat kawasan Puncak,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini