Ini Trauma yang Dialami Korban Pelaku Pedofilia Sehingga Saipul Jamil Ditolak Masyarakat

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bebasnya Saipul Jamil membuat masyarakat kembali ramai membincangkan praktik pedofilia yang pernah dilakukan Bang Ipul itu. Mereka menilai bebasnya penyanyi dangdut itu membuat trauma korbannya muncul lagi.

Pedofilia adalah gangguan seksual atau nafsu seksual yang dialami orang dewasa terhadap anak-anak atau remaja di bawah 14 tahun.

Pengidap pedofilia, disebut pedofil. Kebanyakan pelaku gangguan mental tersebut ini ialah lelaki. Dilansir dari halodoc, itu adalah tindakan yang dilakukan berupa pelampiasan nafsu seksual.

Korban yang mengalami kejahatan seksual seperti itu akan mendapat dampak buruk bagi kesehatan mentalnya. Berikut trauma yang selalu melekat kepada korban pedofilia.

  1. Trauma Seksual
    Pelecehan fisik yang mengenai korban pedofilia pada umumnya akan membekas dan terus membayanginya sampai dewasa.

Maka, trauma itu harus ditangani cepat. Peran orang tua sangat penting bagi pemulihan trauma tersebut.

  1. Tidak Percaya Diri
    Rasa tidak percaya diri terbentuk karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengontrol dirinya. Korban sering merasa dirinya berbeda dengan orang lain, sehingga mengakibatkan beberapa korban merasa tak terima pada tubuhnya akibat kejadian yang dialaminya sehingga si korban berusaha menghindari memori kejadian tersebut.
  2. Depresi
    Depresi adalah rasa sedih yang mendalam dan perasaan tidak peduli. Kondisi itu mengakibatkan anak-anak sebagai korban sering menjadi putus asa, merasa kehilangan minat terhadap kegemaran yang pernah dilakukan sebelumnya. Hal itu juga menjadikan anak sering mengurung diri enggan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar maupun keluarga.

Cara melindungi anak dari kasus pedofilia


A. Memastikan anak selalu dalam pengawasan
Semakin anak tumbuh ia akan mengenal dunia lebih luas dan tidak selalu dalam pengawasan orang tua sepenuhnya. Maka, orang tua tetap harus memastikan anak-anaknya aman dan berada dalam pengawasan yang dapat dipercaya, entah dari teman maupun kerabat dekat.

B. Mengenali sikap anak
Pada dasarnya, orang tua yang paling mengenali anak-anaknya. Meski begitu, sering kali sang anak merasa ketakutan mengungkapkan sesuatu yang terjadi kepada orang tua mereka. Alhasil dia memilih diam.

Penting untuk diketahui apabila merasa ada yang tidak biasa dari sikap anaknya segera melakukan pendekatan agar anak merasa terbuka dan berani bercerita.

C. Memberi pengetahuan
Yang tak kalah penting ialah memberi ilmu pengetahuan mengenai bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi. Tentang bagian mana yang tak boleh disentuh oleh siapapun, beri pengetahuan pada anak jika ada yang melakukan hal tersebut untuk segera bercerita pada orang tua. Agar orang tua selalu tahu akan hal-hal yang terjadi pada anak-anaknya.
Intinya peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan selalu memberi pemahaman kepada anak supaya mereka bertumbuh menjadi pribadi yang baik. (Annisaa Rahmah)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini