Work From Home Lagi? Hindari 4 Hal Ini ya!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sudah hampir setahun sejak pandemi virus corona melanda bumi, memaksa sejumlah bisnis dan industri tetap menutup kantor mereka dan bekerja melalui jarak jauh atau bekerja dari rumah (Work From Home/ WFH).

Pengalaman kerja jarak jauh masih cukup baru. Sistem WFH bahkan tidak memuaskan sejumlah karyawan, yang akhirnya membuat kesalahan saat bekerja. Tanpa disadari, bekerja dari jarak jauh dapat memengaruhi produktivitas kerja.

Melansir Times of India, beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat WFH.

Hindari tempat tidur dan sofa

Saat WFH, Anda dapat bekerja dengan sangat nyaman di kehangatan rumah. Meskipun itu benar, karyawan akhirnya menjatuhkan diri di tempat tidur atau sofa mereka dan mulai mengerjakan laptop mereka tanpa menganalisis betapa berbahayanya hal itu bagi kesehatan fisik dan mental mereka.

Anda mungkin akan menderita karena posisi yang salah dan itu dapat memengaruhi postur Anda. Jadi, saat WFH, belilah meja dan kursi sederhana untuk menghindari bekerja di tempat tidur atau sofa.

Jangan lupa berkomunikasi dengan tim

Bekerja secara terpisah dapat melelahkan, karena komunikasi yang kurang lancar dapat terjadi. WFH juga berpotensi meningkatkan kemungkinan miskomunikasi dan karyawan mungkin merasa diabaikan.

Jadi, manajer tim harus memastikan ada komunikasi yang memadai melalui pesan teks, panggilan audio atau video untuk mengetahui tugas, status proyek, produktivitas kerja karyawan, dan jika mereka menghadapi masalah, dll.

Buat batasan

Akan selalu ada pekerjaan dan gangguan lain di rumah saat WFH. Oleh karena itu, penting untuk mempertahankan struktur kerja dengan membuat daftar pekerjaan yang harus dilakukan, tetap dalam bagian tertentu dari rumah di mana tidak ada yang dapat mengganggu Anda.

Jangan lupa untuk membuat batasan tentang berinteraksi saat Anda berada di tengah jam kerja. Ini membantu Anda tetap fokus pada pekerjaan dan tidak terganggu oleh hal-hal lain di rumah.

Jangan mengabaikan kesehatan

Ketika WFH, terkadang Anda tidak menikmati aktivitas fisik kecil yang biasa Anda lakukan di kantor, seperti berjalan dari satu meja atau ruang konferensi ke ruang lain, berjalan ke kafetaria dll.

Sedangkan ketika Anda WFH, Anda akan menemukan diri Anda dengan sakit punggung yang konstan, mati rasa di kaki Anda, dan banyak lagi. Tidak heran, beberapa bahkan lupa makan siang! Ini sangat penting bagi Anda untuk menjaga kesehatan Anda saat bekerja karena itu harus selalu menjadi prioritas terlepas dari tekanan di tempat kerja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini