Wajib Tahu! Vape Tingkatkan Risiko Stroke

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Riset terbaru yang dipublikasikan di American Journal of Preventive Medicine mengungkapkan bahwa rokok elektrik atau vape tak lebih aman dari rokok tembakau dalam hal risiko stroke. Terlebih saat ini perokok mengonsumsi rokok tembakau dan vape sekaligus.

Dilansir dari Health24, penelitan itu menyebut bahwa remaja yang menggunakan vape dan rokok tembakau sekaligus memiliki risiko stroke dua kali lipat lebih besar dibandingkan yang hanya mengisap rokok tembakau. Sedangkan jika dibandingkan dengan bukan perokok, risikonya meningkat jadi tiga kali lipat.

“Meskipun kita sudah tahu bahwa rokok tembakau adalah salah satu faktor risiko paling penting untuk stroke, tapi mereka yang juga menghisap vape sekaligus berpotensi memiliki efek aditif yang dapat menyebabkan stroke pada usia yang lebih muda,” kata penulis utama riset tersebut, Dr Tarang Parekh, seorang peneliti di Universitas George Mason di Fairfax, Virginia, Amerika Serikat.

Menurut Parekh, sebagai alternatif berhenti merokok tembakau, vape tidaklah lebih aman. Risiko stroke tetap saja sama.

Riset ini ditanggapi oleh Dr Larry Goldstein, ketua neurologi di University of Kentucky di Lexington. Menurut Goldstein, studi tersebut adalah salah satu yang pertama mengukur potensi risiko stroke terkait penggunaan vape.

Goldstein pun meragukan sejauh mana vape secara tunggal bisa menyebabkan stroke. Terlebih vape baru digunakan akhir-akhir ini. Dampak pada risiko stroke mungkin memerlukan periode paparan yang lebih lama,” katanya.

Ia juga menyinggung desain riset tersebut. Menurut dia, kemungkinan terdapat sejumlah faktor penyebab stroke lainya yang tidak diukur oleh periset. Terlebih, lanjut Goldstein, partisipan riset itu hampir 70 persennya adalah pengguna vape tunggal yang berusia 18 hingga 24 tahun.

Untuk penelitian ini, Parekh dan timnya mengumpulkan data dari hampir 162.000 orang berusia 18 hingga 44 tahun. Mereka disurvei pada tahun 2016 dan 2017.

Selain merokok, para peneliti mempertimbangkan faktor-faktor seperti seberapa sering orang menggunakan vape dan rokok tembakau. Termasuk menganalisis data kesehatan peserta seperti tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol tinggi. Ditambah analisis data berat badan, aktivitas fisik, dan penggunaan alkohol.

Stanton Glantz, direktur Pusat Pengendalian Tembakau, Riset dan Pendidikan di University of California, San Francisco, mengatakan kebanyakan orang tidak berhenti mengonsumsi rokok tembakau meski sudah menggunakan vape. Tapi malah cenderung menggunakan keduanya sekaligus, sehingga meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung.

Padahal, lanjut dia, para pendukung vape menyebut bahwa rokok elektrik itu adalah pilihan tepat untuk beralih dari rokok tembakau. Sebab, bagi para pendukung itu, risiko stroke dan serangan jantung akibat vape lebih sedikit.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini