Terungkap! Suami Maudy Ayunda Dulunya Atheis, Baru Mualaf 2 Bulan yang Lalu

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Nama Jesse Choi masih jadi perbincangan publik usai mempersunting aktris tanah air, Maudy Ayunda. Sosok suami Maudy ini terus jadi sorotan mulai dari pendidikan, karier hingga agamanya.

Terbaru, terungkap bahwa Jesse dulunya seorang Atheis atau tidak memiliki agama, sebelum akhirnya menjadi mualaf dan menikah dengan Maudy.

“Dia sebelumnya tidak beragama, atheis. Lalu menjadi mualaf,” kata Kepala KUA Cilandak, Bunyamin.

Tak hanya itu, proses mualaf Jesse juga dituding karena pengaruh dan keinginannya untuk mempersunting pelantun Perahu Kertas itu. Pasalnya, Jesse baru saja memeluk agama Islam dua bulan sebelum ia menikah.

Jesse pun resmi menjadi mualaf setelah membaca syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.

“Berdasarkan sertifikat Islam yang kami terima, (proses mualaf) dilakukan di Masjid Istiqlal pada 25 Maret 2022,” ucap Bunyamin.

Sebulan setelah Jesse Choi menjadi mualaf, barulah ayah Maudy Ayunda mengurus pernikahan sang putri di KUA.

Sontak, kabar ini membuat netizen terkejut sekaligus kagum. Pasalnya, seseorang yang dulunya tak menganut agama bisa ikut memeluk Islam berkat pengaruh orang yang tepat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini